Halo senja, sudah lama kita tidak bermain ke dalam kotak kecil ku ini.
Terakhir kali, rupanya masih berusaha menyesuaikan diri. Kita telah tumbuh bersama dengan sangat baik :)
Kamu, bukan lagi pria 18 tahun yang mengajak ku kenalan di kampus dulu. Aku juga bukan perempuan 18 tahun yang sangat suka berbicara. Walaupun masih sama suka berbicara nya sekarang. Tapi, kamu sudah jauh lebih dewasa daripada dulu pertama kita bertemu. Aku bangga melihatmu yang sekarang sayang :)
Tepat 2 tahun yang lalu, kamu menyatakan cintamu lalu memintaku menjadi pacar mu. Di kolam renang, senja sore hari. 17.30 sore. Aku masih ingat :) cara mu menarik ku, agar aku menoleh padamu. Lalu kamu tanyakan langsung kepada ku. "mau jadi pacar ku gak?" ah tentu saja aku tidak bisa menolak. Aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu. Bahkan senang dan degupan jantung ku saja masih ku ingat.
Semenjak senja itu, kita berjalan. Terseok, merangkak, belajar berdiri hingga dapat berlari. Kita tumbuh bersama, sayang.
Beberapa kali kita terjatuh, dan entah kita selalu menemukan jalan kembali kepada masing-masing. Aku juga tidak lupa malam kita bertengkar hebat itu, menangis berdua hingga dini hari di dalam mobil.
Atau,malam-malam manis milik kita berdua? Kamu masih ingat tidak? Masih terlalu segar di ingatanku semua tentang kamu :)
Juga saat aku atau kamu kelelahan karena dunia seperti tidak memberikan ampun, dan bagaimana peluk mu mengembalikan kenyamanan itu. Seperti, aku kembali ke rumah ku. Aku kembali pulang.
Tidak ada satu malam pun, aku lewati dengan penyesalan karna sudah mengenal kamu. Lewat kamu, aku belajar banyak hal. Belajar dewasa, belajar mengerti kalau tidak semua orang bisa di lakukan dengan cara yg sama, belajar memaafkan, belajar mendengarkan, belajar mendampingi.
Sampai suatu malam, aku terjatuh. Membuatmu terluka. Parah. Kamu berdarah.
Tuhan, jeritku dalam hati. Aku melakukan apa? Kenapa aku membiarkan orang yang aku sayang, malah aku lukai?
Melihatmu terluka, karena aku, bukan hal yang menyenangkan. Aku juga merasakan sakit nya, seperti yang sudah ku katakan. Kita tumbuh bersama, terlalu klise kalau aku mengatakan aku tidak merasakan sakit. Aku juga sakit karena menyakitimu.
Maka menyakitimu adalah tindakan yang sangat bodoh, pedang bermata dua.
Kalau ada kata yang berarti lebih dari maaf, kata itu yang akan gunakan. Sampai saat ini, aku cuma bisa mengatakan, aku mohon ampun. Aku menyesali perbuatan ku, semua nya.
Maaf dan sesal? Apa itu cukup? Tidak, aku tau itu tidak akan cukup dan tidak menyembuhkan apapun. Maka dari itu, aku mencoba menyembuhkan mu. Hari ini, saat ini, kita dalam masalah ini. Aku ingin kamu jangan menyerah. Mgkin terdengar egois, tapi percayalah, kalau aku berjuang menyembuhkan mu tanpa izin mu, penyembuhan apa yang dapat aku lakukan sayang?
Waktu, aku butuh waktu untuk semua pembuktian yang mungkin sekarang tidak lebih dari kata kata sampah dari seorang penipu bagimu. Tahukah kamu? Seorang penjahat pun bisa berubah jika memang ia sudah menyadari kesalahan nya.
Aku tidak berharap tiba-tiba kau datang dengan luka yang sudah sembuh. Tidak, justru aku yg akan mengeringkan luka mu. Aku yang akan ada disana merawat luka mu, luka karena aku.
Maafkan aku, masalah ini terjadi di kisah kita. Maafkan aku, tinbulkan luka yang luarbiasa.
Aku akan terus mencoba, bagaimana pun cara nya. Asal kita bisa melewati ini bersama seperti sebelum nya, akan aku lakukan.
Kesalahan itu, bukan tentang ketidakcukupan aku ttg dirimu, bukan juga tentang pencarian lebih baik. Murni, semua ini kesalahanku.
Aku harap kita bisa berjuang bersama, lagi. Aku berjuang untuk mengembalikan keadaan seperti semula, dan kamu berjuang membiarkan hati mu aku sembuhkan.
Biarkan aku kembalikan sinarmu lagi, senja.
20 yang ke 24 kali nya. Terimakasih sudah sepanjang ini bersama ku, setiap detik setiap tawa setiap airmata setiap amarah setiap pelukan yang menenangkan ku. Terima kasih buat kasih sayang mu, sayang. Percaya padaku, kita bisa melewati ini, alive.
Can I say "happy 2nd anniversary"?
Terakhir kali, rupanya masih berusaha menyesuaikan diri. Kita telah tumbuh bersama dengan sangat baik :)
Kamu, bukan lagi pria 18 tahun yang mengajak ku kenalan di kampus dulu. Aku juga bukan perempuan 18 tahun yang sangat suka berbicara. Walaupun masih sama suka berbicara nya sekarang. Tapi, kamu sudah jauh lebih dewasa daripada dulu pertama kita bertemu. Aku bangga melihatmu yang sekarang sayang :)
Tepat 2 tahun yang lalu, kamu menyatakan cintamu lalu memintaku menjadi pacar mu. Di kolam renang, senja sore hari. 17.30 sore. Aku masih ingat :) cara mu menarik ku, agar aku menoleh padamu. Lalu kamu tanyakan langsung kepada ku. "mau jadi pacar ku gak?" ah tentu saja aku tidak bisa menolak. Aku sudah terlanjur jatuh cinta padamu. Bahkan senang dan degupan jantung ku saja masih ku ingat.
Semenjak senja itu, kita berjalan. Terseok, merangkak, belajar berdiri hingga dapat berlari. Kita tumbuh bersama, sayang.
Beberapa kali kita terjatuh, dan entah kita selalu menemukan jalan kembali kepada masing-masing. Aku juga tidak lupa malam kita bertengkar hebat itu, menangis berdua hingga dini hari di dalam mobil.
Atau,malam-malam manis milik kita berdua? Kamu masih ingat tidak? Masih terlalu segar di ingatanku semua tentang kamu :)
Juga saat aku atau kamu kelelahan karena dunia seperti tidak memberikan ampun, dan bagaimana peluk mu mengembalikan kenyamanan itu. Seperti, aku kembali ke rumah ku. Aku kembali pulang.
Tidak ada satu malam pun, aku lewati dengan penyesalan karna sudah mengenal kamu. Lewat kamu, aku belajar banyak hal. Belajar dewasa, belajar mengerti kalau tidak semua orang bisa di lakukan dengan cara yg sama, belajar memaafkan, belajar mendengarkan, belajar mendampingi.
Sampai suatu malam, aku terjatuh. Membuatmu terluka. Parah. Kamu berdarah.
Tuhan, jeritku dalam hati. Aku melakukan apa? Kenapa aku membiarkan orang yang aku sayang, malah aku lukai?
Melihatmu terluka, karena aku, bukan hal yang menyenangkan. Aku juga merasakan sakit nya, seperti yang sudah ku katakan. Kita tumbuh bersama, terlalu klise kalau aku mengatakan aku tidak merasakan sakit. Aku juga sakit karena menyakitimu.
Maka menyakitimu adalah tindakan yang sangat bodoh, pedang bermata dua.
Kalau ada kata yang berarti lebih dari maaf, kata itu yang akan gunakan. Sampai saat ini, aku cuma bisa mengatakan, aku mohon ampun. Aku menyesali perbuatan ku, semua nya.
Maaf dan sesal? Apa itu cukup? Tidak, aku tau itu tidak akan cukup dan tidak menyembuhkan apapun. Maka dari itu, aku mencoba menyembuhkan mu. Hari ini, saat ini, kita dalam masalah ini. Aku ingin kamu jangan menyerah. Mgkin terdengar egois, tapi percayalah, kalau aku berjuang menyembuhkan mu tanpa izin mu, penyembuhan apa yang dapat aku lakukan sayang?
Waktu, aku butuh waktu untuk semua pembuktian yang mungkin sekarang tidak lebih dari kata kata sampah dari seorang penipu bagimu. Tahukah kamu? Seorang penjahat pun bisa berubah jika memang ia sudah menyadari kesalahan nya.
Aku tidak berharap tiba-tiba kau datang dengan luka yang sudah sembuh. Tidak, justru aku yg akan mengeringkan luka mu. Aku yang akan ada disana merawat luka mu, luka karena aku.
Maafkan aku, masalah ini terjadi di kisah kita. Maafkan aku, tinbulkan luka yang luarbiasa.
Aku akan terus mencoba, bagaimana pun cara nya. Asal kita bisa melewati ini bersama seperti sebelum nya, akan aku lakukan.
Kesalahan itu, bukan tentang ketidakcukupan aku ttg dirimu, bukan juga tentang pencarian lebih baik. Murni, semua ini kesalahanku.
Aku harap kita bisa berjuang bersama, lagi. Aku berjuang untuk mengembalikan keadaan seperti semula, dan kamu berjuang membiarkan hati mu aku sembuhkan.
Biarkan aku kembalikan sinarmu lagi, senja.
20 yang ke 24 kali nya. Terimakasih sudah sepanjang ini bersama ku, setiap detik setiap tawa setiap airmata setiap amarah setiap pelukan yang menenangkan ku. Terima kasih buat kasih sayang mu, sayang. Percaya padaku, kita bisa melewati ini, alive.
Can I say "happy 2nd anniversary"?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar