Entah sudah berapa hela nafas yang ku hembuskan sedikit lebih keras hanya agar mengurangi rasa yang terlalu tajam dalam hatiku. Beberapa hari ini aku seperti memerankan 2 tokoh yang memang sangat berbeda. Dan pertemuan malam itu masih menjadi alasan mengapa aku sedih lalu uring-uring an. Lalu tenggelam dalam diam yang hanya aku miliki sendiri.
Rasa hangat memenuhi pelupuk mataku karen airmata mulai terkumpul disana,aku menutup kedua kelopak mata ku masih berusaha membebaskan hatiku dari rasa carut marut yang kau timbulkan. Kenapa sedalam ini? Kenapa sesakit ini?
Ada yang berbeda dengan rasa sedihku,atau rasa apapun yang aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Aku sangat sadar aku sangat sedih terlebih kecewa,tapi aku tidak bisa menjatuhkan airmataku dengan deras seperti sebelum-sebelumnya ketika aku di kecewakan. Aku pun tidak bisa menjatuhkanmu dengan amarahku yang biasa nya akan meledak jika keadaannya seperti ini. Aku sangat sedih,aku juga marah,tapi jauh dalam lubuk hatiku aku merasa kecewa. Mungkin terlalu kecewa sehingga menangis pun aku lupa,mungkin terlalu kecewa sehingga aku melakukan penolakan terhadap kenyataan yang menghempas, keras.
Tolong koreksi aku kalau pernyataan serta keputusanku nampak salah dalam pandanganmu. Tolong koreksi aku jika seharusnya aku tidak mempertaruhkan seluruh hati yang aku punya. Karena sepertinya sekarang aku tidak punya hati,atau lebih tepatnya kehilangan kemampuan menggunakan hati. Iya terimakasih,sungguh kamu sudah mengajariku bagaimana bertahan dalam luka dan memaafkan.
Bahkan meletakkan kepalaku di pundakmu setelah semuanya terkuak pun hatiku masih berteriak teriak "aku menyayangimu". Kenapa?
Sepertinya aku melakukan banyak kesalahan disini. Sepertinya aku menghancurkan kebahagiaan seseorang disini. Mungkin memang ada harga yang harus aku bayar untuk bersamamu.
"Kenapa kamu bisa melakukannya? Apa yang harus aku mengerti dari ini semua? Lalu apa artinya kehadiranku kalau hanya menjadi selingan dalam luka masa lalu mu?" Aku tidak bisa menghindar dari pertanyaan retoris seperti itu yang terus bermunculan dalam benakku. Sampai saat ini aku belum menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya. Karena aku tau menangis hanya akan merobekkan luka ini saja,tidak membantu apa apa.
Kenapa otak ku tidak bisa berhenti menyalahkanmu? Aku tau aku sudah memaafkanmu,aku sudah memaafkanmu sayang. Tapi kenapa masih saja sakitnya muncul di permukaan?
Maafkan aku,aku belum bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku masih sibuk menyanggah setiap fakta yang harusnya aku sadari sudah terjadi. Ketika kamu mempercayai sepenuhnya hatimu kepada orang lain,ketika kamu menyayanginya dan setiap yang kamu lakukan kamu berharap dia melakukan hal yang sama sepertimu. Dan kenyataan menamparmu keras. Wanita bodoh! Terlalu banyak berfikir,terlalu tinggi berharap! Kamu pikir secara ajaib kamu bisa menghapus kenangan dari otak seseorang dengan jentikkan jarimu?
Kamu jahat! Kamu biarkan aku berharap ketika kamu sendiri pun tidak yakin akan harapan yang kamu berikan.
Aku masih belum bisa menata hatiku,masih berusaha menata hatiku.
Dari langit sore pada senjamu,yang akan tetap mendatangi senjanya sekedar mencari kehangatan.
Rasa hangat memenuhi pelupuk mataku karen airmata mulai terkumpul disana,aku menutup kedua kelopak mata ku masih berusaha membebaskan hatiku dari rasa carut marut yang kau timbulkan. Kenapa sedalam ini? Kenapa sesakit ini?
Ada yang berbeda dengan rasa sedihku,atau rasa apapun yang aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Aku sangat sadar aku sangat sedih terlebih kecewa,tapi aku tidak bisa menjatuhkan airmataku dengan deras seperti sebelum-sebelumnya ketika aku di kecewakan. Aku pun tidak bisa menjatuhkanmu dengan amarahku yang biasa nya akan meledak jika keadaannya seperti ini. Aku sangat sedih,aku juga marah,tapi jauh dalam lubuk hatiku aku merasa kecewa. Mungkin terlalu kecewa sehingga menangis pun aku lupa,mungkin terlalu kecewa sehingga aku melakukan penolakan terhadap kenyataan yang menghempas, keras.
Tolong koreksi aku kalau pernyataan serta keputusanku nampak salah dalam pandanganmu. Tolong koreksi aku jika seharusnya aku tidak mempertaruhkan seluruh hati yang aku punya. Karena sepertinya sekarang aku tidak punya hati,atau lebih tepatnya kehilangan kemampuan menggunakan hati. Iya terimakasih,sungguh kamu sudah mengajariku bagaimana bertahan dalam luka dan memaafkan.
Bahkan meletakkan kepalaku di pundakmu setelah semuanya terkuak pun hatiku masih berteriak teriak "aku menyayangimu". Kenapa?
Sepertinya aku melakukan banyak kesalahan disini. Sepertinya aku menghancurkan kebahagiaan seseorang disini. Mungkin memang ada harga yang harus aku bayar untuk bersamamu.
"Kenapa kamu bisa melakukannya? Apa yang harus aku mengerti dari ini semua? Lalu apa artinya kehadiranku kalau hanya menjadi selingan dalam luka masa lalu mu?" Aku tidak bisa menghindar dari pertanyaan retoris seperti itu yang terus bermunculan dalam benakku. Sampai saat ini aku belum menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya. Karena aku tau menangis hanya akan merobekkan luka ini saja,tidak membantu apa apa.
Kenapa otak ku tidak bisa berhenti menyalahkanmu? Aku tau aku sudah memaafkanmu,aku sudah memaafkanmu sayang. Tapi kenapa masih saja sakitnya muncul di permukaan?
Maafkan aku,aku belum bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku masih sibuk menyanggah setiap fakta yang harusnya aku sadari sudah terjadi. Ketika kamu mempercayai sepenuhnya hatimu kepada orang lain,ketika kamu menyayanginya dan setiap yang kamu lakukan kamu berharap dia melakukan hal yang sama sepertimu. Dan kenyataan menamparmu keras. Wanita bodoh! Terlalu banyak berfikir,terlalu tinggi berharap! Kamu pikir secara ajaib kamu bisa menghapus kenangan dari otak seseorang dengan jentikkan jarimu?
Kamu jahat! Kamu biarkan aku berharap ketika kamu sendiri pun tidak yakin akan harapan yang kamu berikan.
Aku masih belum bisa menata hatiku,masih berusaha menata hatiku.
Dari langit sore pada senjamu,yang akan tetap mendatangi senjanya sekedar mencari kehangatan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar