Minggu, 25 Januari 2015

Perih

Iya, masih terasa perih. Luka ini masih terhitung baru. Aku tidak tahu mengapa atau apa yang mengakibatkan ini semua. Tidak bisa menemukan alasan.
Yang aku tahu, semenjak kejadian malam hari itu, aku masih mencari cari senyum bahagiaku yang dulu pernah terbentuk di bibirku. Kosong, hampa, hilang. Ada sesuatu yang tak pernah kembali semenjak malam itu, mungkin senyumku masih sama. mungkin tawaku masih se ceria hari hari sebelum malam itu. Mungkin begini yang orang katakan dengan kecewa terlalu dalam. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku masih terdiam setiap kejadian itu terulang jelas dalam kepalaku.
Mungkin aku meragu, entah meragu yang bagaimana.

Aku tidak seyakin dulu, aku tidak menemukan apa yang dulu aku temukan dalam tatapan teduhmu yang membuatku jatuh cinta. Aku tidak lagi menatapmu dengan cara yang sama, mungkin tidak benar benar tersirat, dan aku tau kau tidak akan menyadarinya.
Aku bodoh, sudah memberikan seluruh kepercayaan ku kepadamu, tetapi aku tidak pernah menyesali seluruh cinta ku yang hanya untukmu, karena memang cintaku hanya untukmu.
Salahku. Salahku yang mengartikan semua ini sebagai sesuatu yg nyata. Salahku yang terlalu dalam terjatuh dalam tatapan teduhmu, salahku yang terlalu merasa pelukanmu hanya untukku.

Aku tidak tahu kalau kalau sakit karena jatuh cinta bisa menimbulkan efek yang sebesar ini. Tepatnya, aku tidak tahu seberapa dalam aku mencintaimu sampai kamu menyadarkan ku dari mimpi negri dongeng yang ku susun dalam otakku setiap malam sebelum tidur dengan senyum dan rasa hangat menemani di dalam dada. Aku terjatuh terlalu dalam, kelewat dalam kalau hanya untuk di hempaskan keras oleh kenyataan.

aku tahu yang kamu pikirkan sekarang.. "Katamu kamu sudah memaafkanku", aku sudah memaafkanmu. Tapi luka yang kau timbulkan tidak kunjung memudar. Masih timbulkan kegaduhan dalam jiwaku, masih memporak porandakan pikiranku dan menjatuhkan setiap tembok yang aku bangun untuk melindungi hatiku sendiri.

Kali ini, aku tidak akan memberikan halaman ini kepadamu untuk kamu baca. Hanya, kalau nanti aku tidak bisa bertahan, maafkan aku. Bukan aku tidak sanggup, bukan aku tidak mau bertahan. Hanya ada beberapa hal yang lebih baik di lepaskan. Seperti katamu, kamu tidak yakin. Aku juga tidak akan berharap terlalu dalam untuk harapan yang kamu beri padaku, karena kamu sendiri masih tidak yakin akan harapan itu sendiri. Semoga kamu bisa menemukan jawabannya dalam tulisanku.

Beberapa baris lirik lagu ini bisa mewakilkan :)

Tak Kusesali cintaku untukmu
Meskipun dirimu, tak nyata untukku
Sejak pertama kau mengisi hari - hariku
Aku telah meragu mengapa harus dirimu

Aku takkan bertahan
Bila tak teryakinkan
Sesungguhnya cintaku
Memang hanya untukmu
Sungguh ku tak Menahan, bila jalan suratan
Menuliskan dirimu memang bukan untukku,
Selamanya.

Kadang aku lelah menantimu, pastikan cinta untukku

Rabu, 21 Januari 2015

Lihat aku

Entah sudah berapa hela nafas yang ku hembuskan sedikit lebih keras hanya agar mengurangi rasa yang terlalu tajam dalam hatiku. Beberapa hari ini aku seperti memerankan 2 tokoh yang memang sangat berbeda. Dan pertemuan malam itu masih menjadi alasan mengapa aku sedih lalu uring-uring an. Lalu tenggelam dalam diam yang hanya aku miliki sendiri.
Rasa hangat memenuhi pelupuk mataku karen airmata mulai terkumpul disana,aku menutup kedua kelopak mata ku masih berusaha membebaskan hatiku dari rasa carut marut yang kau timbulkan. Kenapa sedalam ini? Kenapa sesakit ini?

Ada yang berbeda dengan rasa sedihku,atau rasa apapun yang aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Aku sangat sadar aku sangat sedih terlebih kecewa,tapi aku tidak bisa menjatuhkan airmataku dengan deras seperti sebelum-sebelumnya ketika aku di kecewakan. Aku pun tidak bisa menjatuhkanmu dengan amarahku yang biasa nya akan meledak jika keadaannya seperti ini. Aku sangat sedih,aku juga marah,tapi jauh dalam lubuk hatiku aku merasa kecewa. Mungkin terlalu kecewa sehingga menangis pun aku lupa,mungkin terlalu kecewa sehingga aku melakukan penolakan terhadap kenyataan yang menghempas, keras.

Tolong koreksi aku kalau pernyataan serta keputusanku nampak salah dalam pandanganmu. Tolong koreksi aku jika seharusnya aku tidak mempertaruhkan seluruh hati yang aku punya. Karena sepertinya sekarang aku tidak punya hati,atau lebih tepatnya kehilangan kemampuan menggunakan hati. Iya terimakasih,sungguh kamu sudah mengajariku bagaimana bertahan dalam luka dan memaafkan.
Bahkan meletakkan kepalaku di pundakmu setelah semuanya terkuak pun hatiku masih berteriak teriak "aku menyayangimu". Kenapa?
Sepertinya aku melakukan banyak kesalahan disini. Sepertinya aku menghancurkan kebahagiaan seseorang disini. Mungkin memang ada harga yang harus aku bayar untuk bersamamu.

"Kenapa kamu bisa melakukannya? Apa yang harus aku mengerti dari ini semua? Lalu apa artinya kehadiranku kalau hanya menjadi selingan dalam luka masa lalu mu?" Aku tidak bisa menghindar dari pertanyaan retoris seperti itu yang terus bermunculan dalam benakku. Sampai saat ini aku belum menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya. Karena aku tau menangis hanya akan merobekkan luka ini saja,tidak membantu apa apa.
Kenapa otak ku tidak bisa berhenti menyalahkanmu? Aku tau aku sudah memaafkanmu,aku sudah memaafkanmu sayang. Tapi kenapa masih saja sakitnya muncul di permukaan?

Maafkan aku,aku belum bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku masih sibuk menyanggah setiap fakta yang harusnya aku sadari sudah terjadi. Ketika kamu mempercayai sepenuhnya hatimu kepada orang lain,ketika kamu menyayanginya dan setiap yang kamu lakukan kamu berharap dia melakukan hal yang sama sepertimu. Dan kenyataan menamparmu keras. Wanita bodoh! Terlalu banyak berfikir,terlalu tinggi berharap! Kamu pikir secara ajaib kamu bisa menghapus kenangan dari otak seseorang dengan jentikkan jarimu?
Kamu jahat! Kamu biarkan aku berharap ketika kamu sendiri pun tidak yakin akan harapan yang kamu berikan.

Aku masih belum bisa menata hatiku,masih berusaha menata hatiku.

Dari langit sore pada senjamu,yang akan tetap mendatangi senjanya sekedar    mencari kehangatan.

Sabtu, 03 Januari 2015

Nyanyian hujanmu dalam sanubariku

Dan suara yang sangat akrab dalam telingaku menyadarkanku dari tidur lelap singkatku, aku coba membuka mataku. Ah ternyata hujan, tiupan angin tipis namun terasa sampai ke dalam tulangku membuatku menarik selimut yang telah ku sibakkan. Dan aku memejamkan mataku, sebentuk wajah terbentuk dari gelapnya pandanganku, seketika cairan hangat seperti mengalir dalam hatiku menimbulkan kenyamanan yang selama ini aku rasakan.

Di hari hujan seperti ini, di tengah suara air menyentuh bumi, di tengah suara petir membelah langit dari kejauhan. Alam semesta ini memiliki pesan akan keindahan kepada siapapun yang dapat menangkapnya. Sama seperti kehadiranmu, jujur tanpa sandiwara menarik tanganku untuk berlari dalam genggamanmu. Yang dimana kehangatan dari pertemuan telapak tangan mu dengan telapak tanganku merasuk ke setiap inci dari nadiku sampai kepada hatiku membuatku menghela nafas.

Hujan kali ini terasa sangat istimewa karena jatuh membasahi kedatangan langit senjaku. Kamu adalah matahari senjaku, yang tidak akan tertutup walau terburamkan oleh bulir bulir hujan yang mengalir melewati setiap inci jendelaku. Cahaya mataharimu melesak masuk melalui setiap celah mencoba mendekapku dengan hangatmu. Iya, kamu hangat dan aku menyukai keteduhanmu yang menenangkan.

Karena aku suka hujan, dan aku adalah penikmat senja. Dan kamu adalah keindahan di antara hujan dan cahaya senjaku, kamu juga suka hujan. Kita sama sama suka hujan. Walau aku lebih menyukai hujan gerimis tipis awal november, yang hanya timbulkan ketenangan tanpa bencana. Semua orang punya perbedaan mengenai selera bukan? Dan dalam rengkuhan langit senja janji antara kita pun terucapkan.
Sore itu, aku baru saja memalingkan tatapanku dari awan sore yang terpecah dan terobek indah dari cahaya matahari seakan mempertahankan cahaya agar tetap berada dalam sela-sela jemari awan yang sudah terbelah menimbulkan gambaran tak terbayarkan dalam mataku. Lalu aku jatuhkan tatapanku pada mu yang sedang tersenyum simpul tepat di hadapanku. "Kamu mau gak jadi pacarku? Dalam bahagia ataupun sedih sama aku?" Nafasku pun tercekat, seperti masih meneliti ke dalam matamu mencoba mencari cari apa maksud dari kata kata yang baru saja ku dengar, mencoba mencari kebohongan atau tatapan gurauan. Tapi aku tidak menemukannya, yang aku temukan hanya tatapan tulus seorang pria meminta seorang wanita menemani dirinya menjalani hari-hari nya.
Aku masih ingat, yang terjadi selanjutnya adalah mataku memanas sambil menggangukan kepala sekuat yang aku bisa untuk membuatmu sadar kalau aku meng-iya-kan permintaanmu dengan sepenuh hatiku.

Sejak saat itu, hujan ataupun senja ataupun hujan di kala senja adalah tentang kita. Karena dalam hujan aku temukan banyak ketenangan dan keteduhan seperti yang ku temukan dari dirimu. Karena di hadapan awan sore langit senja kita memutuskan untuk bersama dalam satu pelukan. Karena hujan dan senja sama-sama menyimpan cerita tentang kita, menyimpan nyanyian hujanmu di sanubariku. Dalam. Memelukku dalam kehangatan senjamu. Erat

Kamis, 01 Januari 2015

Suatu kejujuran

Malam itu, kamu hanya sejauh hembusan nafasku. Kamu tepat di ujung hidungku, sedang memejamkan mata seraya bibirmu tidak berhenti mengucapkan semua yang kamu rasakan selama ini. Aku memperhatikan setiap detail dari wajahmu, bagaimana matamu tertutup, bagaimana hidungmu menarik oksigen ke dalam paru parumu, bagaimana alismu berkerut sesuai dengan cerita yang sedang kamu tuturkan, bagaimana bibirmu membentuk kata kata.

Kata-kata yang aku tidak tahu mengapa namun mengiris hatiku, sungguh.
Dan malam ini kembali pada keadaan seperti biasa, aku menuliskan keadaan hatiku karena aku tidak cukup pandai untuk mengatakannya secara langsung, apalagi untuk aku ucapkan secara spontan di hadapanmu yang hanya sejauh hembusan nafasku.

Ingatanku terus membawaku kembali kepada malam itu, karena kata kata yang kamu ucapkan berhasil membuatku tidak memalingkan perhatianku.
"Dia mempunyai hati yang besar dalam hal mencintaiku"
Kamu tau bagaimana rasanya jadi aku saat itu? bagaimana jantungku terasa terhenti? aku tidak mengerti mengapa kata kata itu sungguh terasa perih dalam telingaku dan merasuk cepat ke hatiku. Koreksi aku jika salah, tapi aku merasa bukan sesuatu dalam hidupmu. Aku seperti berada dalam suatu kotak yang penuh berisi kenanganmu dan dirinya. Aku hanya menggenggam bagian kecil dari kotak itu.
Rasanya seperti bukan aku yang ada di dalam kotak hidupmu, rasanya kotak hidupmu masih menjadi miliknya. Bagaimana kamu menjelaskan setiap detail perjalanan kalian berdua?

Sungguh kalau aku tidak sungguh menyayangimu, pasti rasanya tidak akan sesakit dan semenyesakkan ini, sayang. Dan malam ini, dalam kesunyian dan gelap pekatnya malam akhirnya aku menjatuhkan airmataku. Aku merasa cemburu, aku merasa ingin marah, tapi aku sadar tanah yang ku pijak masih basah, belum padat untuk dapat menahan ku.

"Aku pesimis............." Sungguh? Kamu pesimis? lalu apakah kamu akan menyerah?
Menyerah lalu pergi? Sama seperti yang mereka lakukan?
Kamu tahu? kamu baru saja mematahkan semangatku, kamu baru saja menjatuhkan harapanku dengan kata-katamu. Lalu apa yang membuatmu datang dan menetap selama ini kalau hanya untuk menyerah?

Aku memang keras kepala, aku memang susah untuk dimengerti. sungguh, hanya segelintir orang yang dapat melakukannya. Dan aku berharap kamu termasuk di dalamnya. Aku sudah menerbangkan impianku, aku sudah memberikan hatiku yang paling aku jaga dan aku berikan hanya kepada yang aku percayai, dan aku percaya kamu.

Andai kamu tahu, andai bisa kamu melihat dalam hatiku. Rasakan bagaimana aku menyayangimu. Aku menyayangimu dalam diamku, aku bahkan sibuk mencintaimu dalam tawaku. Aku menyayangimu tidak seperti orang lain yang akan matimatian menunjukkannya. Aku tidak bisa seperti itu aku bukan wanita yang bisa melakukannya. Aku tidak pernah sedalam ini mencintai seseorang, ini menjawab pertanyaanmu malam itu yang hanya bisa aku jawab dengan tatapanku.
Dan aku mohon padamu, tolong jangan menyerah padaku, aku tidak bisa memaksamu karena dalam hal ini menyangkut perasaan yang memang hidup.

Hatiku tidak sebesar dia yang dulu menemanimu, namun aku berikan jiwa dan ragaku seluas luasnya untuk menyayangimu. Dan mungkin aku akan melakukan kesalahan lagi, tapi sungguh aku berusaha menjadi lebih baik hanya untukmu. Mempertahankan kenyamananmu dalam pelukanku. Egois kah aku?
Dan sayang, aku tau kamu akan membaca tulisanku. Hanya kamu yang aku sayangi sedalam ini. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana aku bersyukur untuk segala yang kita lewati, bagaimana aku tersenyum hangat dalam pelukanmu, bagaimana aku berterimakasih kepada Tuhan yang setidaknya memberikan ku menjadi salah satu bagian terkecil dalam perjalanan hidupmu. Aku bisa menjalani sebaik-baiknya bahkan melampai dari apa yang mampu aku lakukan, yang aku tahu yang aku rasakan aku menyayangimu dengan setulus hatiku. Jangan langkahkan kakimu menjauh dari aku, jangan palingkan tatapnmu dari tatapanku, tetap disini, bersamaku.

Aku harap kamu mengerti, dan kamu pasti mengerti :)

5 kata yg menjadi candu,4 kata yg menyebabkannya. Rindu Kamu.

Akhirnya aku bisa merebahkan punggungku pada kursi yang rasanya lebih nyaman dari apapun.
Ku pejamkan mataku,ku hela nafasku dalam lelah. Malam ini rasanya aku menjadi wanita paling damai,setelah mendengar alunan lembut musik mengalun dan nyanyian dari choir memenuhi ruangan besar itu.
Seberapapun damai yang ku rasa,seberapa aku tersenyum,aku masih sibuk mencarimu dalam keramaian. Entah,hatiku berharap akan menemukan senyum itu,milikmu memecah kerumunan orang yang sedang menikmati atmosfir kedamaian natal itu.
Lalu ingatanku pun kembali pada hari kebersamaan kita. Aku pejamkan mataku,hanya untuk merasakan kehadiranmu secara semu namun nyata.
Aku bisa mendengar tawamu,aku dengar suara beratmu saat menenangkanku,aku rasakan tatapanmu jatuh tepat pada mataku untuk menahan kepergianku,aku bisa rasakan genggaman tanganmu dan kecupan manis dari bibirmu di punggung tanganku,bahkan wangi aroma tubuhmu masih terasa melebur dalam oksigen yang ku masukkan dalam paru paru ku.
Merindukan seseorang adalah paradoks,di satu sisi aku menyadari aku memang menyayangimu sehingga aku bisa sampai pada titik ini,di sisi lain aku tidak bisa merasakan apa apa selain rasa yang muncul terlalu menggebu-gebu.
AH TOLONG! Apapun yang kamu lakukan padaku saat ini,hentikkan itu. Jangan,aku terlalu merindukanmu.
Dan aku tidak sabar menunggu tiba waktunya beristirahat,akan ku gapai bayangmu dalam dunia yang hanya milikku. Dunia dimana aku dapat berlari menghampirimu lalu membenamkan wajahku pada pelukanmu dan sepuasanya menjatuhkan airmataku melepas rasa yang memekakan dadaku ini tanpa terhalang apapun,tanpa terbatas waktu ataupun jarak. Dunia dimana kamu seutuhnya milikku.
Aku selipkan kamu pada setiap kegiatanku,aku bentuk senyumanmu pada otakku,aku rapalkan namamu dalam doaku. Sampai aku dan kamu melipat tangan dan berlutut di hadapan Tuhan meminta restu-Nya pada dua anak manusia yang saling memeluk walau samasama timbulkan luka lalu samasama membasuh dengan airmata. Aku masih berharap pada hari itu sayang, iya aku tau itu tidak sama sekali mudah tidak sama sekali tanpa beban. Tapi aku menaruh harapan itu dalam genggaman tangan kita berdua,sampai nanti aku bisa tersenyum untuk berada di sampingmu,menulis cerita dimana kita menjadi pemeran utamanya.
Sayang,genggam mimpi kita dan mendakilah bersamaku. Akan aku tunjukkan padamu,arti saling memiliki.
Terimakasih untuk bersamaku,terimakasih untuk kehadiranmu.


Malam natal, 24 Desember 2014.