Minggu, 26 Juli 2015

Tanpa alasan

Dulu, aku pernah punya anjing. Anjing pertama ku, aku adopsi dari rumah rekanan papa ketika dia masih bayi. Aku merasa aku adalah anak perempuan berumur 12 tahun yang paling bahagia. Aku beri dia nama, Casey. Casey sungguh sangat menggemaskan, dia kecil dia lincah bulu bulu nya halus. Yang tak bisa ku lupa kan, suara gonggongan pertama nya setiba di rumah. Aku tidak menunggu apapun lagi, aku berlari memeluk Casey dan kami bersahabat semenjak itu. Walaupun mama tidak mengizinkan ku untuk membawa nya ke kamar untuk tidur bersama ku seperti yang selama ini ku rencanakan jika suatu hari aku memiliki seekor anjing. Pada hari itu, papa mengajak ku duduk di depan rumah ku, sambil memegang pundak ku papa berkata bahwa Casey sakit dan kita akan menitipkan nya di rumah rekanan papa. Namun aku tau, aku tau bahwa artinya aku tidak akan pernah bisa melihat Casey lagi selamanya. Setelah hari pembicaraan ku dengan papa, ku habis kan hari hari ku memandangi Casey dengan sedih. Aku sangat menyayangi nya, sungguh. Dia berlari lari mengitari kaki ku lalu loncat ke dalam pangkuan ku, sepertinya dia bosan aku acuh kan karna aku terlalu sibuk dengan pikiran ku sendiri. Aku sangat takut, tepat nya aku takut merasa kehilangan, aku takut untuk merasa hancur karena sedih.
Hari itu pun tiba, lalu dengan berat hati aku masuk ke dalam mobil tentu dengan casey di pangkuan ku. Ya hari itu aku akan mengantar Casey, yg akan menjadi hari terakhir ku melihat nya juga. Perasaan ku campur aduk saat itu. Casey sangat bersemangat, tentu seperti biasa nya dia tidak bisa diam, dengan mata yang berbinar dia melihat keluar jendela dan dengan ekor yang di goyang kan dia menyalak apapun yang di lihat nya. Kami pun sampai, dan aku sendiri yang menggendong casey dan meletakkan nya di kandang baru di rumah 'lama' nya. Dia memperhatikan ku, aku tidak bisa seperti ini lalu aku langsung membalikkan badan ku menuju mobil. Aku duduk dan aku tenggelam kan wajahku dalam bantal, aku menangis sejadi jadi nya. Ini yang selama ini aku takut kan, hancur dalam kesedihan.

Waktu berlalu, dan aku sudah menjadi seorang gadis awal 20-an. Aku duduk di kantin kampus ku dengan beberapa teman teman ku, hey aku tidak tahu bahwa kampus bisa sehebat ini, dan sangat bertolak belakang dengan yang aku pikirkan dulu. Lalu tiba tiba seorang anak laki laki, sepertinya dia teman dari teman ku, datang dan duduk. Tanpa bicara sepatah kata pun. Ia duduk dengan headset di telinga dan gadget di tangan. Mata nya tidak lepas dari gadget yang ada di dalam genggaman nya itu.  Dan aku mendengus kesal, aku lirik sinis laki-laki aneh itu dan berkata dalam hati, bisa bisa nya dia main duduk bahkan tidak ada basa-basi nya sama sekali. Percaya atau tidak beberapa hari setelah itu, aku sedang duduk di lobby kampus, kelas outting ku hari itu sudah selesai, aku pikir tidak ada salah nya aku duduk bersama teman teman ku disini, lagi pula untuk menenangkan pikiran ku. Jadi aku duduk bersama dengan beberapa orang teman ku. Seseorang menepuk pundak ku dari belakang, aku menoleh. Tidak, aku tidak mengenal laki-laki ini walaupun rasanya wajah nya tidak asing. Ohh dia berbicara dengan teman ku. Lalu dia mengajakku berkenalan. Dan bertukar kontak. Ah aku ingat, dia laki-laki menyebalkan di kantin kampus tempo hari. Aku tidak banyak menaruh pikiran, mungkin sedang mencari teman berhubung ini merupakan tahun pertama bagi angkatan kami memulai langkah di perguruan tinggi. Malam nya, aku menerima beberapa pesan dari laki laki itu, namanya marchel. Jujur saja, aku tidak memberi perhatian lebih, wajahnya saja aku lupa. Tapi dari cara dia membalas pesan ku, dia lawan bicara yang cukup bisa menyebabkan aku tertawa dungu membaca pesan singkat nya. Dan tanpa sadar, aku mulai merasa nyaman, nyaman pada laki laki menyebalkan itu. Ini mengejutkan, laki laki itu menyatakan dia menyukai ku? Hey kita baru saja kenal, walaupun harus ku akui dia adalah seseorang yang sangat menyenangkan, walaupun dia juga mempunyai sesuatu yang menarik hati ku entah bagaimana dia melakukan nya.
Tapi, dia pantas untuk mendapatkan kesempatan.
Jadi,malam itu aku pergi dengan nya sesuai dengan yang dia nyatakan bahwa ini adalah kencan pertama kami. Lucu sekali, sangat terlihat kalau dia menyukai ku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menaruh hati pada pria menyebalkan yang ternyata mampu mencuri hati ku dalam beberapa hari. Tidak butuh waktu yang lama, untuk membiarkan hatiku di main kn dengan cara nya. Aku tidak sadar bahwa aku sudah jatuh hati pada pria ini. Yang memiliki tatapan hangat yang baru selama ini ku sadari, yang memiliki tawa khas yang aku tahu akan selalu aku rindukan.
Dia mengambil seluruh hatiku! Aku tidak tahu ini apa, tapi aku bisa merasakan nya. Aku belum pernah seperti ini, tapi rasa nya aku tahu kalau ini yang namanya jatuh cinta sepenuh hati. Lalu kata kan padaku, bagaimana aku tidak jatuh tertunduk pada pria semanis dia? Yang kedalaman mata nya menarik ku dari kenyataan untuk masuk kedalam dan tenggelam selama nya? Yang dengan lengan kokohnya mampu memisahkan ku dari dingin nya malam? Aku jatuh cinta pada setiap janji manis, yng terdengar klise bagi setiap orang yang sedang di landa cinta. Janji yng semua orang akan ucapkan kepada kekasih hati nya pada saat hatinya di penuhi bunga. Tapi aneh nya, aku percaya pada janji klise ala opera sabun televisi. Tapi aneh nya, aku terbuai dan terasa hidup dalam janji yang terlalu manis untuk di bayangkan jadi nyata.
Dan aku menemukan diriku sama seperti 7 tahun yang lalu, saat pertama bertemu Casey. Baiklah ini hal yang sangat berbeda, jatuh cinta dengan anjing pertama?
Tapi aku juga terbuai dalam indah nya persahabatan kami, sampai aku tidak tahu bagaimana kalau kami berpisah. Dan aku merasakan hal yang sama sekarang.
Semua nya sangat indah, bahkan terlalu indah untuk jadi kenyataan sampai aku takut kalau kalau suatu saat aku bangun dan semua ini hanya mimpi. Kalau kalau suatu saat semua ini hanya ilusi yang kau ciptakan dan aku terjebak di dalam nya selamanya. Aku tidak punya alasan untuk tidak mempercayai mu, tapi semua nya terasa memojokan ku. Aku tidak punya hati kalau aku tidak mempercayai mu hanya karna masa lalu ku dan masa lalu mu. Hanya saja, aku sangat takut. Aku sangat takut untuk merasakan lagi kehilangan itu, aku merasa takut untuk menangis akan kepergian mu. Karna kalau aku menangis, aku takut aku tidak mampu untuk menghentikan nya.
Rasanya aku ingin egois, ingin memaksa mu bersama ku seterusnya tidak peduli akan apa yang terjadi nanti di hari depan. Rasanya aku ingin  melarikan mu dari dunia dan memiliki mu seorang diri. Tapi aku tahu, hubungan kita sudah dewasa bukan melulu tentang aku dan kamu. Justru karena hubungan  kita sudah dewasa yang membuat dan memunculkan rasa takut ku semakin tidak beralasan. Mungkin  aku terlalu menyayangi mu? Mungkin aku juga sudah gila? Semua nya berkecamuk di dalam otak ku, memenuhi otak ku lalu dengan perlahan berubah menjadi tetes bening yang memenuhi pelupuk mata ku. Kamu menatap ku malam ini, aku tidak tahu apa maksudnya tapi entah aku seperti mengenal tatapan itu. Dan aku tidak akan siap, dan aku tidak akan membiarkan diri ku kehilangan sesuatu yang sangat berarti untuk kedua kali nya. Lalu aku mulai terdengar kekanak-kanak an. Aku ingin bercerita kepadamu, melampiaskan. Tapi aku takut kamu merasa terbeban dengan  semua pikiran tanpa alasan ku ini. Aku tidak ingin. Hanya saja semua ini sudah terlalu memenuhi ku, aku terlalu takut sayang. Aku tahu ini semua mungkin hanya suatu ketakutan tanpa alasan. Tapi jika nanti kalau aku harus melihat mu membalikan badan dari ku dan pergi? Masih mampu kah berdiri? Seperti apa dunia ku ini nanti nya? Lalu kenapa kalau aku bisa seyakin dengan  janji janji itu tapi semua hanya semu semata? Tidak, aku tahu Tuhan menaruh permata dalam hubungan ini. Aku tahu jatuh cinta sedalam ini tidak bisa terjadi berkali-kali dalam hidup seseorang. Dan ini diriku, dalam gelap nya malam. Tak henti berdoa kepada Sang pemberi kehidupan, untuk setidaknya memalingkan wajah-Nya dan memberkati hubungan milik kita ini.