Akhirnya aku bisa merebahkan punggungku pada kursi yang rasanya lebih nyaman dari apapun.
Ku pejamkan mataku,ku hela nafasku dalam lelah. Malam ini rasanya aku menjadi wanita paling damai,setelah mendengar alunan lembut musik mengalun dan nyanyian dari choir memenuhi ruangan besar itu.
Seberapapun damai yang ku rasa,seberapa aku tersenyum,aku masih sibuk mencarimu dalam keramaian. Entah,hatiku berharap akan menemukan senyum itu,milikmu memecah kerumunan orang yang sedang menikmati atmosfir kedamaian natal itu.
Lalu ingatanku pun kembali pada hari kebersamaan kita. Aku pejamkan mataku,hanya untuk merasakan kehadiranmu secara semu namun nyata.
Aku bisa mendengar tawamu,aku dengar suara beratmu saat menenangkanku,aku rasakan tatapanmu jatuh tepat pada mataku untuk menahan kepergianku,aku bisa rasakan genggaman tanganmu dan kecupan manis dari bibirmu di punggung tanganku,bahkan wangi aroma tubuhmu masih terasa melebur dalam oksigen yang ku masukkan dalam paru paru ku.
Merindukan seseorang adalah paradoks,di satu sisi aku menyadari aku memang menyayangimu sehingga aku bisa sampai pada titik ini,di sisi lain aku tidak bisa merasakan apa apa selain rasa yang muncul terlalu menggebu-gebu.
AH TOLONG! Apapun yang kamu lakukan padaku saat ini,hentikkan itu. Jangan,aku terlalu merindukanmu.
Dan aku tidak sabar menunggu tiba waktunya beristirahat,akan ku gapai bayangmu dalam dunia yang hanya milikku. Dunia dimana aku dapat berlari menghampirimu lalu membenamkan wajahku pada pelukanmu dan sepuasanya menjatuhkan airmataku melepas rasa yang memekakan dadaku ini tanpa terhalang apapun,tanpa terbatas waktu ataupun jarak. Dunia dimana kamu seutuhnya milikku.
Aku selipkan kamu pada setiap kegiatanku,aku bentuk senyumanmu pada otakku,aku rapalkan namamu dalam doaku. Sampai aku dan kamu melipat tangan dan berlutut di hadapan Tuhan meminta restu-Nya pada dua anak manusia yang saling memeluk walau samasama timbulkan luka lalu samasama membasuh dengan airmata. Aku masih berharap pada hari itu sayang, iya aku tau itu tidak sama sekali mudah tidak sama sekali tanpa beban. Tapi aku menaruh harapan itu dalam genggaman tangan kita berdua,sampai nanti aku bisa tersenyum untuk berada di sampingmu,menulis cerita dimana kita menjadi pemeran utamanya.
Sayang,genggam mimpi kita dan mendakilah bersamaku. Akan aku tunjukkan padamu,arti saling memiliki.
Terimakasih untuk bersamaku,terimakasih untuk kehadiranmu.
Malam natal, 24 Desember 2014.
Ku pejamkan mataku,ku hela nafasku dalam lelah. Malam ini rasanya aku menjadi wanita paling damai,setelah mendengar alunan lembut musik mengalun dan nyanyian dari choir memenuhi ruangan besar itu.
Seberapapun damai yang ku rasa,seberapa aku tersenyum,aku masih sibuk mencarimu dalam keramaian. Entah,hatiku berharap akan menemukan senyum itu,milikmu memecah kerumunan orang yang sedang menikmati atmosfir kedamaian natal itu.
Lalu ingatanku pun kembali pada hari kebersamaan kita. Aku pejamkan mataku,hanya untuk merasakan kehadiranmu secara semu namun nyata.
Aku bisa mendengar tawamu,aku dengar suara beratmu saat menenangkanku,aku rasakan tatapanmu jatuh tepat pada mataku untuk menahan kepergianku,aku bisa rasakan genggaman tanganmu dan kecupan manis dari bibirmu di punggung tanganku,bahkan wangi aroma tubuhmu masih terasa melebur dalam oksigen yang ku masukkan dalam paru paru ku.
Merindukan seseorang adalah paradoks,di satu sisi aku menyadari aku memang menyayangimu sehingga aku bisa sampai pada titik ini,di sisi lain aku tidak bisa merasakan apa apa selain rasa yang muncul terlalu menggebu-gebu.
AH TOLONG! Apapun yang kamu lakukan padaku saat ini,hentikkan itu. Jangan,aku terlalu merindukanmu.
Dan aku tidak sabar menunggu tiba waktunya beristirahat,akan ku gapai bayangmu dalam dunia yang hanya milikku. Dunia dimana aku dapat berlari menghampirimu lalu membenamkan wajahku pada pelukanmu dan sepuasanya menjatuhkan airmataku melepas rasa yang memekakan dadaku ini tanpa terhalang apapun,tanpa terbatas waktu ataupun jarak. Dunia dimana kamu seutuhnya milikku.
Aku selipkan kamu pada setiap kegiatanku,aku bentuk senyumanmu pada otakku,aku rapalkan namamu dalam doaku. Sampai aku dan kamu melipat tangan dan berlutut di hadapan Tuhan meminta restu-Nya pada dua anak manusia yang saling memeluk walau samasama timbulkan luka lalu samasama membasuh dengan airmata. Aku masih berharap pada hari itu sayang, iya aku tau itu tidak sama sekali mudah tidak sama sekali tanpa beban. Tapi aku menaruh harapan itu dalam genggaman tangan kita berdua,sampai nanti aku bisa tersenyum untuk berada di sampingmu,menulis cerita dimana kita menjadi pemeran utamanya.
Sayang,genggam mimpi kita dan mendakilah bersamaku. Akan aku tunjukkan padamu,arti saling memiliki.
Terimakasih untuk bersamaku,terimakasih untuk kehadiranmu.
Malam natal, 24 Desember 2014.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar