Minggu, 22 Februari 2015

122-123

Minggu,22 februari 2015
"Bae,aku seneng bisa sama kamu. Bisa jadi sesuatu yang kamu anggap spesial" lalu rasa hangat memenuhi dadaku. "Iyalah,kan kamu pake telur hahaha" balas mu, seperti biasa ketika aku atau kamu memberikan masing-masing susunan kalimat puitis yang di rancang semanis mungkin,maka gurauan lah balasannya. Tidak,aku tidak tersinggung atau merasa tidak dihargai. Memang seperti itu cara kerja hubungan kita,aku dan kamu. Tidak biasa,meletup-letup. Baik ketika bunga bunga ada di dalam hati atau ketika api membakar semuanya. Tapi aku menyukainya,sungguh aku menyukai "sistem kerja" hubungan kita.
Tadi siang,kamu menatap layar laptopmu dengan serius. Sesekali umpatan umpatan kecil kamu teriakan beserta ekspresi seperti kamu yang berada di pertempuran dengan sniper dan shotgun. Aku sedang tidak tertarik,kamu tahu aku juga menyukai permainan permainan yang membuat siapa saja yang bermain permainan itu tenggelam di dalamnya. Jadi aku membuka layar laptopku lalu aku memainkan lagu balada cinta dengan lirik mahal dan suara khas penyanyinya. "Bae..." kamu sudah mem-pause permainanmu,dengan wajah manja dan lengan terbuka kamu memanggilku agar mendekat. Dan aku jatuhkan daguku di atas pundakmu,aku bisa rasakan detak jantungmu dari balik susunan tulang di rongga dadamu,juga tangan kokohmu yang membuatku merasa kecil dalam dekapanmu. Aku mempererat lingkaran yang ku buat dengan tanganku di lehermu. "Saat kau di sisiku,kembali dunia ceria. Tegaskan bahwa kamu,anugrah terindah yang pernah ku miliki" suara serak sengau khas Duta dan lirik yang entah dengan tepatnya mengubah perasaanku menjadi kata kata. Beberapa detik kamu masih memejamkan kedua matamu,tanpa sepatah kata tanpa tatapan yang saling bertemu. Aku mengerti kamu mengerti,bahwa hati kita yang sedang berkata kata yang hanya kamu dan aku dapat mengerti. Lalu kamu melonggarkan dekapanmu,dan mendaratkan kecupan manis pada pelipisku.

Jumat,20 februari 2015
Berulang kali aku mengecek ponselku,ku ketuk ketuk kan jariku di atas layar ponsel yang daritadi hanya diam,tanpa suara tanpa getaran tanda pesan masuk. "Ini kan hari kita,kamu kemana" bisikku gusar dalam hati. Ah,aku sedang berada dalam puncak rindu rindunya ditambah hari ini tanggal milik kita,dan kamu menghilang.. benar benar menguji kesabaran. Aku harus mengaku kalah pada rindu,akan kedatangannya yang tiba tiba namun merasuk cepat dalam hatiku. Yang dengan jentikkan jarinya lalu seketika sesak memenuhi dada dan mataku mulai meraba-raba mencoba mencari sosokmu yang aku tahu tidak akan muncul di hadapanku,lalu telingaku menajam setiap terdengar deru sepeda motor yang hampir sama dengan milikmu memecah keheningan siang hari itu namun aku menyadari itu hanya ilusi yang ditimbulkan otakku atau aku yang berharap kamu tiba tiba muncul dengan senyum hangat milikmu?
Drrt drrt.... ponselku bergetar,segera aku sambar ponselku untuk melihat apa yang menyebabkan nya mengeluarkan notifikasi pesan. Yay! Pekikan kecil keluar dari bibirku tanpa ku sadari. "Aku mau ke rumahmu,tunggu ya". Kamu tahu,aku tidak pernah benar-benar kesal saat kamu kadang sibuk dengan kepentinganmu. Hanya saja rindu ini terkadang terlalu menggebu-gebu,entah sihir apa yang sudah kamu rapalkan untuk hatiku.
Dan akhirnya aku bisa merengkuhmu tanpa jarak lagi dalam pelukanku. Dan akhirnya aku bisa menikmati senyuman dan tatapan teduhmu yang tak pernah gagal mempercepat detak jantungku.

Minggu, 01 Februari 2015

Sesuatu Tentang Memaafkan

Ada beberapa hal yang baru aku mengerti, ada beberapa kenyataan hidup yang aku jadikan pelajaran. Salah satunya tentang memaafkan. Sesuatu tentang memaafkan.

Ada sesuatu yang menghantui ku, entah mau ku sebut bagaimana tapi ketika aku melihat ke dalam tatapanmu, lebih tepatnya menenggelamkan diriku sendiri seperti yang sudah sangat sering aku lakukan, aku menyadari sesuatu. Iya aku menyayangimu, aku menyayangimu sampai sampai rasa sayangku mampu menyembuhkan luka itu sendiri
Dan kenyataan membawa kaki ini menapak kembali pada permukaan bumi, aku sudah terbang dan membiarkan hati ku sendiri tertiup amarahku yang aku sulut sendiri.

Aku sadar, walaupun aku bertahan dengan luka ini tapi kamu tidak membiarkannya. Kamu tahu aku terluka, kamu sadar kamu yang menimbulkan luka itu, dan kamu juga satusatu nya yang dapat mengembalikan hatiku ke bentuk semula walaupun tidak sempurna. Perasaan ini masih belum habis, atau mungkin tidak akan habis. Kamu tidak tahu seberapa besar hati mu mampu menerima seseorang secara utuh, sampai kamu di paksa menggunakan kebesaran hatimu sendiri.

Kisah ini bukan kisah murahan yang biasa kita tertawakan ketika menyaksikan opera sabun di televisi, tidak. Tidak kisah tentang aku dan kamu. Cinta kita terlalu besar kalau hanya bisa hancur karena pihak pihak yang memang tidak menginginkan telapak tanganmu bertemu dengan telapak tanganku. Tapi, terimakasih. Terimakasih kalian membuat saya dan dia menyadari kalau kisah yang sedang kami rajut bukan sekedar kisah cinta buaian tidur milik kalian, bukan juga kisah cinta "setengah matang" yang kalian pikir selama ini kami lakukan. Tidak, kisah saya dan dia lebih dari sekedar cinta negri dongeng.

Ada malam ketika angin bertiup merasuk ke setiap inci dari tulangku, Ada hari ketika matahari rasanya garang membakar kulit, dan merubah airmata menjadi debu. Dan aku tidak akan membiarkanmu menjauh atau pergi lagi dari sisi ku, tidak pernah lagi sekalipun.

Dan aku menerimamu, aku menyayangimu dengan segala yang kamu punya, buruk dan baik. Aku bisa melewati ini semua, asal kamu mau terus menggenggam tanganku tanpa kamu lepaskan.
Semua bisa terasa sangat salah, semua tentang kamu adalah keadaan dimana sesuatu terjadi dengan cepat dan dalam. Aku tidak takut jatuh cinta lagi jika itu kepadamu, aku tidak takut membiarkan orang lain memeluk hatiku jika itu kamu, aku tidak takut memaafkan lagi jika itu kamu.

Sesuatu tentang memaafkan, sesuatu yang membahagiakan. Seperti melepas beban, seperti melepaskan suatu belenggu, seperti berjalan tanpa sesuatu yang membayang-bayangi. Lebih seperti kembali kepada senyumku yang lama, yang mungkin membuatmu jatuh cinta. Seperti memelukmu ketika aku terlalu lelah karena hidup memperlakukanku semaunya, iya. Menyenangkan. Cintaku tidak bersyarat.
Aku yakin, setelah semua ini pelukanmu akan tetap menjadi kesukaanku, dan tawamu masih menghipnotisku, dan kamu masih menjadi rumahku, tempat aku kembali :)

Aku tidak peduli, aku tidak mau membuat mu tersiksa lagi, aku lebih tidak peduli, aku mau menggenggam jemarimu, menyandarkan kepalaku pada bahumu, menikmati aroma tubuhmu, merasakan hangat pelukmu lagi yang nyatanya mampu menarik ku kembali.

"Bahkan embun tidak butuh warna untuk membuat daun jatuh cinta"