Tatap matamu, senyum manjamu, gelak tawamu, aroma tubuhmu, pemicu detak jantungku, hujan pada senjaku... Kamu
Rabu, 12 Agustus 2015
Minggu, 26 Juli 2015
Tanpa alasan
Dulu, aku pernah punya anjing. Anjing pertama ku, aku adopsi dari rumah rekanan papa ketika dia masih bayi. Aku merasa aku adalah anak perempuan berumur 12 tahun yang paling bahagia. Aku beri dia nama, Casey. Casey sungguh sangat menggemaskan, dia kecil dia lincah bulu bulu nya halus. Yang tak bisa ku lupa kan, suara gonggongan pertama nya setiba di rumah. Aku tidak menunggu apapun lagi, aku berlari memeluk Casey dan kami bersahabat semenjak itu. Walaupun mama tidak mengizinkan ku untuk membawa nya ke kamar untuk tidur bersama ku seperti yang selama ini ku rencanakan jika suatu hari aku memiliki seekor anjing. Pada hari itu, papa mengajak ku duduk di depan rumah ku, sambil memegang pundak ku papa berkata bahwa Casey sakit dan kita akan menitipkan nya di rumah rekanan papa. Namun aku tau, aku tau bahwa artinya aku tidak akan pernah bisa melihat Casey lagi selamanya. Setelah hari pembicaraan ku dengan papa, ku habis kan hari hari ku memandangi Casey dengan sedih. Aku sangat menyayangi nya, sungguh. Dia berlari lari mengitari kaki ku lalu loncat ke dalam pangkuan ku, sepertinya dia bosan aku acuh kan karna aku terlalu sibuk dengan pikiran ku sendiri. Aku sangat takut, tepat nya aku takut merasa kehilangan, aku takut untuk merasa hancur karena sedih.
Hari itu pun tiba, lalu dengan berat hati aku masuk ke dalam mobil tentu dengan casey di pangkuan ku. Ya hari itu aku akan mengantar Casey, yg akan menjadi hari terakhir ku melihat nya juga. Perasaan ku campur aduk saat itu. Casey sangat bersemangat, tentu seperti biasa nya dia tidak bisa diam, dengan mata yang berbinar dia melihat keluar jendela dan dengan ekor yang di goyang kan dia menyalak apapun yang di lihat nya. Kami pun sampai, dan aku sendiri yang menggendong casey dan meletakkan nya di kandang baru di rumah 'lama' nya. Dia memperhatikan ku, aku tidak bisa seperti ini lalu aku langsung membalikkan badan ku menuju mobil. Aku duduk dan aku tenggelam kan wajahku dalam bantal, aku menangis sejadi jadi nya. Ini yang selama ini aku takut kan, hancur dalam kesedihan.
Waktu berlalu, dan aku sudah menjadi seorang gadis awal 20-an. Aku duduk di kantin kampus ku dengan beberapa teman teman ku, hey aku tidak tahu bahwa kampus bisa sehebat ini, dan sangat bertolak belakang dengan yang aku pikirkan dulu. Lalu tiba tiba seorang anak laki laki, sepertinya dia teman dari teman ku, datang dan duduk. Tanpa bicara sepatah kata pun. Ia duduk dengan headset di telinga dan gadget di tangan. Mata nya tidak lepas dari gadget yang ada di dalam genggaman nya itu. Dan aku mendengus kesal, aku lirik sinis laki-laki aneh itu dan berkata dalam hati, bisa bisa nya dia main duduk bahkan tidak ada basa-basi nya sama sekali. Percaya atau tidak beberapa hari setelah itu, aku sedang duduk di lobby kampus, kelas outting ku hari itu sudah selesai, aku pikir tidak ada salah nya aku duduk bersama teman teman ku disini, lagi pula untuk menenangkan pikiran ku. Jadi aku duduk bersama dengan beberapa orang teman ku. Seseorang menepuk pundak ku dari belakang, aku menoleh. Tidak, aku tidak mengenal laki-laki ini walaupun rasanya wajah nya tidak asing. Ohh dia berbicara dengan teman ku. Lalu dia mengajakku berkenalan. Dan bertukar kontak. Ah aku ingat, dia laki-laki menyebalkan di kantin kampus tempo hari. Aku tidak banyak menaruh pikiran, mungkin sedang mencari teman berhubung ini merupakan tahun pertama bagi angkatan kami memulai langkah di perguruan tinggi. Malam nya, aku menerima beberapa pesan dari laki laki itu, namanya marchel. Jujur saja, aku tidak memberi perhatian lebih, wajahnya saja aku lupa. Tapi dari cara dia membalas pesan ku, dia lawan bicara yang cukup bisa menyebabkan aku tertawa dungu membaca pesan singkat nya. Dan tanpa sadar, aku mulai merasa nyaman, nyaman pada laki laki menyebalkan itu. Ini mengejutkan, laki laki itu menyatakan dia menyukai ku? Hey kita baru saja kenal, walaupun harus ku akui dia adalah seseorang yang sangat menyenangkan, walaupun dia juga mempunyai sesuatu yang menarik hati ku entah bagaimana dia melakukan nya.
Tapi, dia pantas untuk mendapatkan kesempatan.
Jadi,malam itu aku pergi dengan nya sesuai dengan yang dia nyatakan bahwa ini adalah kencan pertama kami. Lucu sekali, sangat terlihat kalau dia menyukai ku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menaruh hati pada pria menyebalkan yang ternyata mampu mencuri hati ku dalam beberapa hari. Tidak butuh waktu yang lama, untuk membiarkan hatiku di main kn dengan cara nya. Aku tidak sadar bahwa aku sudah jatuh hati pada pria ini. Yang memiliki tatapan hangat yang baru selama ini ku sadari, yang memiliki tawa khas yang aku tahu akan selalu aku rindukan.
Dia mengambil seluruh hatiku! Aku tidak tahu ini apa, tapi aku bisa merasakan nya. Aku belum pernah seperti ini, tapi rasa nya aku tahu kalau ini yang namanya jatuh cinta sepenuh hati. Lalu kata kan padaku, bagaimana aku tidak jatuh tertunduk pada pria semanis dia? Yang kedalaman mata nya menarik ku dari kenyataan untuk masuk kedalam dan tenggelam selama nya? Yang dengan lengan kokohnya mampu memisahkan ku dari dingin nya malam? Aku jatuh cinta pada setiap janji manis, yng terdengar klise bagi setiap orang yang sedang di landa cinta. Janji yng semua orang akan ucapkan kepada kekasih hati nya pada saat hatinya di penuhi bunga. Tapi aneh nya, aku percaya pada janji klise ala opera sabun televisi. Tapi aneh nya, aku terbuai dan terasa hidup dalam janji yang terlalu manis untuk di bayangkan jadi nyata.
Dan aku menemukan diriku sama seperti 7 tahun yang lalu, saat pertama bertemu Casey. Baiklah ini hal yang sangat berbeda, jatuh cinta dengan anjing pertama?
Tapi aku juga terbuai dalam indah nya persahabatan kami, sampai aku tidak tahu bagaimana kalau kami berpisah. Dan aku merasakan hal yang sama sekarang.
Semua nya sangat indah, bahkan terlalu indah untuk jadi kenyataan sampai aku takut kalau kalau suatu saat aku bangun dan semua ini hanya mimpi. Kalau kalau suatu saat semua ini hanya ilusi yang kau ciptakan dan aku terjebak di dalam nya selamanya. Aku tidak punya alasan untuk tidak mempercayai mu, tapi semua nya terasa memojokan ku. Aku tidak punya hati kalau aku tidak mempercayai mu hanya karna masa lalu ku dan masa lalu mu. Hanya saja, aku sangat takut. Aku sangat takut untuk merasakan lagi kehilangan itu, aku merasa takut untuk menangis akan kepergian mu. Karna kalau aku menangis, aku takut aku tidak mampu untuk menghentikan nya.
Rasanya aku ingin egois, ingin memaksa mu bersama ku seterusnya tidak peduli akan apa yang terjadi nanti di hari depan. Rasanya aku ingin melarikan mu dari dunia dan memiliki mu seorang diri. Tapi aku tahu, hubungan kita sudah dewasa bukan melulu tentang aku dan kamu. Justru karena hubungan kita sudah dewasa yang membuat dan memunculkan rasa takut ku semakin tidak beralasan. Mungkin aku terlalu menyayangi mu? Mungkin aku juga sudah gila? Semua nya berkecamuk di dalam otak ku, memenuhi otak ku lalu dengan perlahan berubah menjadi tetes bening yang memenuhi pelupuk mata ku. Kamu menatap ku malam ini, aku tidak tahu apa maksudnya tapi entah aku seperti mengenal tatapan itu. Dan aku tidak akan siap, dan aku tidak akan membiarkan diri ku kehilangan sesuatu yang sangat berarti untuk kedua kali nya. Lalu aku mulai terdengar kekanak-kanak an. Aku ingin bercerita kepadamu, melampiaskan. Tapi aku takut kamu merasa terbeban dengan semua pikiran tanpa alasan ku ini. Aku tidak ingin. Hanya saja semua ini sudah terlalu memenuhi ku, aku terlalu takut sayang. Aku tahu ini semua mungkin hanya suatu ketakutan tanpa alasan. Tapi jika nanti kalau aku harus melihat mu membalikan badan dari ku dan pergi? Masih mampu kah berdiri? Seperti apa dunia ku ini nanti nya? Lalu kenapa kalau aku bisa seyakin dengan janji janji itu tapi semua hanya semu semata? Tidak, aku tahu Tuhan menaruh permata dalam hubungan ini. Aku tahu jatuh cinta sedalam ini tidak bisa terjadi berkali-kali dalam hidup seseorang. Dan ini diriku, dalam gelap nya malam. Tak henti berdoa kepada Sang pemberi kehidupan, untuk setidaknya memalingkan wajah-Nya dan memberkati hubungan milik kita ini.
Hari itu pun tiba, lalu dengan berat hati aku masuk ke dalam mobil tentu dengan casey di pangkuan ku. Ya hari itu aku akan mengantar Casey, yg akan menjadi hari terakhir ku melihat nya juga. Perasaan ku campur aduk saat itu. Casey sangat bersemangat, tentu seperti biasa nya dia tidak bisa diam, dengan mata yang berbinar dia melihat keluar jendela dan dengan ekor yang di goyang kan dia menyalak apapun yang di lihat nya. Kami pun sampai, dan aku sendiri yang menggendong casey dan meletakkan nya di kandang baru di rumah 'lama' nya. Dia memperhatikan ku, aku tidak bisa seperti ini lalu aku langsung membalikkan badan ku menuju mobil. Aku duduk dan aku tenggelam kan wajahku dalam bantal, aku menangis sejadi jadi nya. Ini yang selama ini aku takut kan, hancur dalam kesedihan.
Waktu berlalu, dan aku sudah menjadi seorang gadis awal 20-an. Aku duduk di kantin kampus ku dengan beberapa teman teman ku, hey aku tidak tahu bahwa kampus bisa sehebat ini, dan sangat bertolak belakang dengan yang aku pikirkan dulu. Lalu tiba tiba seorang anak laki laki, sepertinya dia teman dari teman ku, datang dan duduk. Tanpa bicara sepatah kata pun. Ia duduk dengan headset di telinga dan gadget di tangan. Mata nya tidak lepas dari gadget yang ada di dalam genggaman nya itu. Dan aku mendengus kesal, aku lirik sinis laki-laki aneh itu dan berkata dalam hati, bisa bisa nya dia main duduk bahkan tidak ada basa-basi nya sama sekali. Percaya atau tidak beberapa hari setelah itu, aku sedang duduk di lobby kampus, kelas outting ku hari itu sudah selesai, aku pikir tidak ada salah nya aku duduk bersama teman teman ku disini, lagi pula untuk menenangkan pikiran ku. Jadi aku duduk bersama dengan beberapa orang teman ku. Seseorang menepuk pundak ku dari belakang, aku menoleh. Tidak, aku tidak mengenal laki-laki ini walaupun rasanya wajah nya tidak asing. Ohh dia berbicara dengan teman ku. Lalu dia mengajakku berkenalan. Dan bertukar kontak. Ah aku ingat, dia laki-laki menyebalkan di kantin kampus tempo hari. Aku tidak banyak menaruh pikiran, mungkin sedang mencari teman berhubung ini merupakan tahun pertama bagi angkatan kami memulai langkah di perguruan tinggi. Malam nya, aku menerima beberapa pesan dari laki laki itu, namanya marchel. Jujur saja, aku tidak memberi perhatian lebih, wajahnya saja aku lupa. Tapi dari cara dia membalas pesan ku, dia lawan bicara yang cukup bisa menyebabkan aku tertawa dungu membaca pesan singkat nya. Dan tanpa sadar, aku mulai merasa nyaman, nyaman pada laki laki menyebalkan itu. Ini mengejutkan, laki laki itu menyatakan dia menyukai ku? Hey kita baru saja kenal, walaupun harus ku akui dia adalah seseorang yang sangat menyenangkan, walaupun dia juga mempunyai sesuatu yang menarik hati ku entah bagaimana dia melakukan nya.
Tapi, dia pantas untuk mendapatkan kesempatan.
Jadi,malam itu aku pergi dengan nya sesuai dengan yang dia nyatakan bahwa ini adalah kencan pertama kami. Lucu sekali, sangat terlihat kalau dia menyukai ku. Aku tidak bisa menahan diri untuk tidak menaruh hati pada pria menyebalkan yang ternyata mampu mencuri hati ku dalam beberapa hari. Tidak butuh waktu yang lama, untuk membiarkan hatiku di main kn dengan cara nya. Aku tidak sadar bahwa aku sudah jatuh hati pada pria ini. Yang memiliki tatapan hangat yang baru selama ini ku sadari, yang memiliki tawa khas yang aku tahu akan selalu aku rindukan.
Dia mengambil seluruh hatiku! Aku tidak tahu ini apa, tapi aku bisa merasakan nya. Aku belum pernah seperti ini, tapi rasa nya aku tahu kalau ini yang namanya jatuh cinta sepenuh hati. Lalu kata kan padaku, bagaimana aku tidak jatuh tertunduk pada pria semanis dia? Yang kedalaman mata nya menarik ku dari kenyataan untuk masuk kedalam dan tenggelam selama nya? Yang dengan lengan kokohnya mampu memisahkan ku dari dingin nya malam? Aku jatuh cinta pada setiap janji manis, yng terdengar klise bagi setiap orang yang sedang di landa cinta. Janji yng semua orang akan ucapkan kepada kekasih hati nya pada saat hatinya di penuhi bunga. Tapi aneh nya, aku percaya pada janji klise ala opera sabun televisi. Tapi aneh nya, aku terbuai dan terasa hidup dalam janji yang terlalu manis untuk di bayangkan jadi nyata.
Dan aku menemukan diriku sama seperti 7 tahun yang lalu, saat pertama bertemu Casey. Baiklah ini hal yang sangat berbeda, jatuh cinta dengan anjing pertama?
Tapi aku juga terbuai dalam indah nya persahabatan kami, sampai aku tidak tahu bagaimana kalau kami berpisah. Dan aku merasakan hal yang sama sekarang.
Semua nya sangat indah, bahkan terlalu indah untuk jadi kenyataan sampai aku takut kalau kalau suatu saat aku bangun dan semua ini hanya mimpi. Kalau kalau suatu saat semua ini hanya ilusi yang kau ciptakan dan aku terjebak di dalam nya selamanya. Aku tidak punya alasan untuk tidak mempercayai mu, tapi semua nya terasa memojokan ku. Aku tidak punya hati kalau aku tidak mempercayai mu hanya karna masa lalu ku dan masa lalu mu. Hanya saja, aku sangat takut. Aku sangat takut untuk merasakan lagi kehilangan itu, aku merasa takut untuk menangis akan kepergian mu. Karna kalau aku menangis, aku takut aku tidak mampu untuk menghentikan nya.
Rasanya aku ingin egois, ingin memaksa mu bersama ku seterusnya tidak peduli akan apa yang terjadi nanti di hari depan. Rasanya aku ingin melarikan mu dari dunia dan memiliki mu seorang diri. Tapi aku tahu, hubungan kita sudah dewasa bukan melulu tentang aku dan kamu. Justru karena hubungan kita sudah dewasa yang membuat dan memunculkan rasa takut ku semakin tidak beralasan. Mungkin aku terlalu menyayangi mu? Mungkin aku juga sudah gila? Semua nya berkecamuk di dalam otak ku, memenuhi otak ku lalu dengan perlahan berubah menjadi tetes bening yang memenuhi pelupuk mata ku. Kamu menatap ku malam ini, aku tidak tahu apa maksudnya tapi entah aku seperti mengenal tatapan itu. Dan aku tidak akan siap, dan aku tidak akan membiarkan diri ku kehilangan sesuatu yang sangat berarti untuk kedua kali nya. Lalu aku mulai terdengar kekanak-kanak an. Aku ingin bercerita kepadamu, melampiaskan. Tapi aku takut kamu merasa terbeban dengan semua pikiran tanpa alasan ku ini. Aku tidak ingin. Hanya saja semua ini sudah terlalu memenuhi ku, aku terlalu takut sayang. Aku tahu ini semua mungkin hanya suatu ketakutan tanpa alasan. Tapi jika nanti kalau aku harus melihat mu membalikan badan dari ku dan pergi? Masih mampu kah berdiri? Seperti apa dunia ku ini nanti nya? Lalu kenapa kalau aku bisa seyakin dengan janji janji itu tapi semua hanya semu semata? Tidak, aku tahu Tuhan menaruh permata dalam hubungan ini. Aku tahu jatuh cinta sedalam ini tidak bisa terjadi berkali-kali dalam hidup seseorang. Dan ini diriku, dalam gelap nya malam. Tak henti berdoa kepada Sang pemberi kehidupan, untuk setidaknya memalingkan wajah-Nya dan memberkati hubungan milik kita ini.
Kamis, 25 Juni 2015
Hari ke 249
249 malam, 5.976 jam,358.560 menit, 21.513.600 detik dan hitungan nya masih terus berlanjut....
aku sampai pada suatu masa, dimana aku sudah cukup tinggi dari bumi, tapi masih jauh untuk menggapai langit. Aku ada di sana bersama mu.
Hai senja, sudah lama aku tidak menulis pikiran pikiran tentang mu di kotak kecil ku ini. Tapi itu tidak berarti kamu berhenti memberikan sesuatu yang hebat di setiap hari hari kebersamaan kita. Hanya saja aku lebih sering kehilangan kata-kata atas segala yang kau timbulkan, sehingga sulit mengubah nya menjadi susunan kalimat yang akan aku simpan di kotak kecil milik ku.
aku sampai pada suatu masa, dimana aku sudah cukup tinggi dari bumi, tapi masih jauh untuk menggapai langit. Aku ada di sana bersama mu.
Hai senja, sudah lama aku tidak menulis pikiran pikiran tentang mu di kotak kecil ku ini. Tapi itu tidak berarti kamu berhenti memberikan sesuatu yang hebat di setiap hari hari kebersamaan kita. Hanya saja aku lebih sering kehilangan kata-kata atas segala yang kau timbulkan, sehingga sulit mengubah nya menjadi susunan kalimat yang akan aku simpan di kotak kecil milik ku.
Sudah 249 malam aku bersamamu, menikmati kehadiran mu, mendapat ucapan selamat malam yang singkat namun manis. Cukup untuk mengembangkan senyum ku sebelum aku terlelap. 249 malam dalam senyuman dan juga dalam amarah, 249 malam yang aku lewati dengan cinta ataupun airmata. Jika cinta mu bukan cinta yang memberikan segalanya untuk cinta mu itu, jika cinta mu bukan cinta yang meletakkan hidup kita masing-masing untuk selanjutnya di jalani bukan tentang aku atau kamu tapi kita, maka itu bukan cinta yang patut untuk kamu perjuangkan sepanjang ini.
Aku mencintai mu senja seperti seorang anak perempuan mencintai boneka nya, seperti daun yang jatuh cinta pada angin walaupun harus terlepas dari tangkai nya hanya untuk menikmati kebersamaan dengan angin, seperti seorang astronot yang jatuh cinta pada sebuah bintang, semua orang bisa melihat bintang nya namun hanya ia dan bintang nya yang tahu dimana keistimewaan telah tercipta.
Aku jatuh cinta padamu senja, aku mencintai setiap detik nya bersamamu.
“Cukup, tidak perlu semua orang tahu yang penting kita bisa merasakannya” jawabmu singkat malam itu, ketika aku mulai merengek seperti anak kecil dalam dekapan mu ingin memperlihat kan kepada dunia bahwa langit malam ini sudah menemukan senja yang selama ini menjadi imajinasi nya sejak dulu. Lalu dengan lembut kamu mendaratkan kecupan manis di kening ku, seperti bagaimana aku menyukai nya.
Kamu tahu, bagaimana mengendalikan perempuan keras kepala ini, kamu bisa menemukan celah terkecil ku, kamu tahu bagaimana membuat ku yakin bagaimana membuat ku tersenyum. Sesuatu yang tidak banyak orang yang bisa melakukan nya.
Dan kamu tahu bagaimana membuat ku tertunduk, lalu mendongak dengan senyum dan airmata di pelupuk mataku.
Aku hanya seorang penyair, aku hanya mampu menuliskan pikiran ku dalam kata-kata di kotak kecilku. Kamu akan memandangku sebagai suatu langit dalam yang tenggelam dalam diam, percayalah kamu adalah seluruh bagian dari langit malam ku, seluruh tata surya ku. Dan dengan kata –kata ku aku mencintaimu, dan dengan syair ku kamu akan menemukan yang tidak bisa kamu temukan dalam pertemuan mata kita atau genggaman hangat tangan kita.
Aku akan terus menyairkan syair untuk mu senja ku, otak ku akan selalu menyusun kata kata untukmu dalam malam hangat kita ataupun malam dingin kita aku tidak peduli, aku tidak punya arah untuk kembali, dan aku lebih tidak peduli aku mau berada di langit bersama senjaku 1000 malam lagi.
Kamis, 14 Mei 2015
Kehangatan
Marchel, tau kah kamu? Kamu dan senja memiliki banyak kesamaan. Aku jatuh cinta pada senja, pada ketenangan yang ia ciptakan ketika aku menatap langit semu merah nya. Pada keheningan yang membius siapa saja yang tenggelam di dalam senja nya, termasuk aku. Pada cahaya temaram yang hangat dan tidak egois tidak menunjukkan kilau nya,hanya dengan cahaya temaram yang ia tawarkan tetapi tidak kehilangan pesona nya sama sekali.
Pada awan yang membuat bentuk nya nyaris sampai pada genggaman, nyaris sanggup aku menyentuh lembut nya, awan yang menyenangkan.
Aku juga mencintai pantai sore hari dengan sepenuh hatiku. Aku jatuh hati pada suara deburan ombak memecah keheningan ketika menghempas karang. Ombak yang merelakan dirinya pecah ketika menghantam karang, merelakan dirinya pecah menjadi leburan aliran air yang menimbulkan keindahan bagi siapapun yang memperhatikan, seperti aku saat ini.
Aku juga jatuh cinta pada permukaan air pada sore hari yang memantulkan kilau cahaya matahari yang merayap turun kembali kepada peraduan nya, terlihat seperti laut yang menelan matahari.
Pantai sore hari juga memiliki angin yang lembut, lembut membelai kulit ku, angin yang tidak meniup dan menerbang kan butir butir pasir, angin yang tidak menyakiti seseorang yang menyadari kehadiran nya. Angin yang hanya ingin menari di atas pasir pantai sore hari.
Chel,jadi terimakasih atas genggaman tangan hangat milikmu. Atas pelukan nyaman di hadapan senja dan laut yang menjadi saksi kita. Atas kecupan yang kamu darat kan di kening ku penuh kasih sayang. Atas air mata bahagia yang memenuhi mata ku senja itu, aku terlalu bahagia untuk dapat berkata banyak. Atas setiap nada yang membentuk melodi yang merasuk ke hatiku, dan hatimu. Terimakasih sudah melengkapi senja ku, senja kita di hadapan lautan, senja kita dengan deguban dada kencang yang menenangkan.
Senja kita yang memenuhi hatiku dengan senyuman mu. Terimakasih sudah memilih tetap menyayangiku. Aku jatuh cinta pada pria yang memiliki kemampuan sama dengan senja.
Pada awan yang membuat bentuk nya nyaris sampai pada genggaman, nyaris sanggup aku menyentuh lembut nya, awan yang menyenangkan.
Aku juga mencintai pantai sore hari dengan sepenuh hatiku. Aku jatuh hati pada suara deburan ombak memecah keheningan ketika menghempas karang. Ombak yang merelakan dirinya pecah ketika menghantam karang, merelakan dirinya pecah menjadi leburan aliran air yang menimbulkan keindahan bagi siapapun yang memperhatikan, seperti aku saat ini.
Aku juga jatuh cinta pada permukaan air pada sore hari yang memantulkan kilau cahaya matahari yang merayap turun kembali kepada peraduan nya, terlihat seperti laut yang menelan matahari.
Pantai sore hari juga memiliki angin yang lembut, lembut membelai kulit ku, angin yang tidak meniup dan menerbang kan butir butir pasir, angin yang tidak menyakiti seseorang yang menyadari kehadiran nya. Angin yang hanya ingin menari di atas pasir pantai sore hari.
Chel,jadi terimakasih atas genggaman tangan hangat milikmu. Atas pelukan nyaman di hadapan senja dan laut yang menjadi saksi kita. Atas kecupan yang kamu darat kan di kening ku penuh kasih sayang. Atas air mata bahagia yang memenuhi mata ku senja itu, aku terlalu bahagia untuk dapat berkata banyak. Atas setiap nada yang membentuk melodi yang merasuk ke hatiku, dan hatimu. Terimakasih sudah melengkapi senja ku, senja kita di hadapan lautan, senja kita dengan deguban dada kencang yang menenangkan.
Senja kita yang memenuhi hatiku dengan senyuman mu. Terimakasih sudah memilih tetap menyayangiku. Aku jatuh cinta pada pria yang memiliki kemampuan sama dengan senja.
Minggu, 03 Mei 2015
Dalam keseharian
Waktu itu seseorang berkata kepadaku sambil menepuk pundak ku "Nikahilah seseorang yang keburukan nya masih baik dan masih bisa kamu nikmati. Jangan lihat kelebihan karna semua org bisa menerima kelebihan" Bagaimana aku bisa menjelaskan ini?
Ada seorang pria dengan senyuman yg khas,senyum yang hanya menaikkan satu sisi bibir tapi mampu menaikkan kecepatan deguban jantung scr kilat. Seorang pria dengan tatapan tajam namun dalam tatapan seperti itu justru menghadirkan kehangatan,kehangatan yg berasal dari hatimu.
Seorang pria yg ketika mendaratkan telapak tangan kanannya ke pundak sbelah kiri seorang wanita ,lalu menariknya untuk lebih dekat. Utk enyahkan jarak,selalu membuatnya mencari cari pelukan sang pria di malam dingin nya
Seorang pria yg kehadiran nya pantas di nikmati setiap hari. Seorang yang dalam amarah nya pun mampu meredam letupan dan peluk nya yang meluluhkan remuk nya hati.
Seorg pria yg berani langsung menegur ketika sang wanita kehilangan kendali atas kata kata nya. Seorg pria yg akan selalu menenggelamkan wanita nya dalam pelukan dalam setelah sbelumnya menghanyutkan dalam suara nada rendah miliknya ketika ambisi menguasai otak,lalu bertindak ceroboh. Iya, dia memilih wanita yang hidup dalam tantangan ambisi.
Tuhan... Pria itu benar benar menyayangi wanita nya. Bagaimana ia tdk mencintai jika ia yg memiliki segalanya dalam otaknya lalu rela melawan logika hanya utk mengerti Jalan fikir wanita nya yg jelas2 memang tidak sejalan. Bgmana bisa ia tidak mencintai jika ia adalah seorg pria yg jelas jelas bukan manusia pagi hari,namun rela membuka mata bahkan ketika matahari masih bersembunyi d kerajaan awan. Bgmana bisa ia tdk mencintai jika ia adalah seorg pria yg tanpa ragu mendaratkan kecupan manis d kening,tepat ketika wanita nya menginginkannya. Seorg pria idealis,namun mau mengorbankan banyak hal demi melihat seorang wanita tersenyum,tdk kelelahan dan tawa lepas yg membuat nya jatuh cinta pada wanita itu.
Kamu lihat? Wanita itu sangat beruntung mempunyai dia. Yg menahan laju kerja otaknya yg memeluknya kapan saja, yg mampu menghapus airmata.
Cinta memang sederhana hadir dalam keseharian, bahagianya jadi aku ketika keseharian jadi cinta dan cinta jd keseharian.
Wanita yang memiliki pria itu adalah aku :)
Ada seorang pria dengan senyuman yg khas,senyum yang hanya menaikkan satu sisi bibir tapi mampu menaikkan kecepatan deguban jantung scr kilat. Seorang pria dengan tatapan tajam namun dalam tatapan seperti itu justru menghadirkan kehangatan,kehangatan yg berasal dari hatimu.
Seorang pria yg ketika mendaratkan telapak tangan kanannya ke pundak sbelah kiri seorang wanita ,lalu menariknya untuk lebih dekat. Utk enyahkan jarak,selalu membuatnya mencari cari pelukan sang pria di malam dingin nya
Seorang pria yg kehadiran nya pantas di nikmati setiap hari. Seorang yang dalam amarah nya pun mampu meredam letupan dan peluk nya yang meluluhkan remuk nya hati.
Seorg pria yg berani langsung menegur ketika sang wanita kehilangan kendali atas kata kata nya. Seorg pria yg akan selalu menenggelamkan wanita nya dalam pelukan dalam setelah sbelumnya menghanyutkan dalam suara nada rendah miliknya ketika ambisi menguasai otak,lalu bertindak ceroboh. Iya, dia memilih wanita yang hidup dalam tantangan ambisi.
Tuhan... Pria itu benar benar menyayangi wanita nya. Bagaimana ia tdk mencintai jika ia yg memiliki segalanya dalam otaknya lalu rela melawan logika hanya utk mengerti Jalan fikir wanita nya yg jelas2 memang tidak sejalan. Bgmana bisa ia tidak mencintai jika ia adalah seorg pria yg jelas jelas bukan manusia pagi hari,namun rela membuka mata bahkan ketika matahari masih bersembunyi d kerajaan awan. Bgmana bisa ia tdk mencintai jika ia adalah seorg pria yg tanpa ragu mendaratkan kecupan manis d kening,tepat ketika wanita nya menginginkannya. Seorg pria idealis,namun mau mengorbankan banyak hal demi melihat seorang wanita tersenyum,tdk kelelahan dan tawa lepas yg membuat nya jatuh cinta pada wanita itu.
Kamu lihat? Wanita itu sangat beruntung mempunyai dia. Yg menahan laju kerja otaknya yg memeluknya kapan saja, yg mampu menghapus airmata.
Cinta memang sederhana hadir dalam keseharian, bahagianya jadi aku ketika keseharian jadi cinta dan cinta jd keseharian.
Wanita yang memiliki pria itu adalah aku :)
Minggu, 05 April 2015
Dalam Lingkaran
Entah sudah berapa kali dalam minggu-minggu terakhir kita seperti berada dalam suatu lingkaran, lebih tepatnya hanya aku yang merasa seperti itu.
Karena kamu memang tidak menunjukkan kalau kamu menyadari sesuatu yang salah tentang kita.
Sebentar aku tertawa lalu membalas pelukanmu, sebentar kemudian keadaan berubah 180 derajat. Lalu kita akan saling menatap dengan amarah di matamu, iya aku melihatnya.
Aku menghela nafasku bersamaan dengan semua kejadian seperti terulang di dalam otakku. Semuanya aku simpan dalam hati, karena lebih mudah daripada harus menjelaskan kepadamu, kamu yang kelihatannya sama tapi berbeda. Bahkan aku masih memikirkan mengapa kamu mempertahankan ini semua, kamu menyayangiku? Kalau memang kamu menyayangiku harusnya tidak seperti ini.
Dan airmataku mulai jatuh, semua ini mulai terasa mengganggu pikiranku, karena terjadi terlalu sering dalam kurun waktu yang singkat. Kamu mengganggap aku mendahulukan ego ku dan aku beranggapan bahwa kamu sama sekali tidak mengerti apa maksudku dari awal. TIDAK AKAN MENEMUKAN TITIK PUSAT, tidak akan. Semuanya seperti perlahan tapi pasti menjauh dari pandanganku. Rencana kita, semua bayangan hari hari nanti yang akan aku lewati bersamamu, terasa jauh dan tidak mungkin sama sekali.
Aku tidak akan memulai bicara kepadamu lagi. Rasanya seperti berputar di tempat. Was it just a lie baby? Lalu sepertinya kita terlalu cepat menyimpulkan cinta kita kuat menghadapi dunia, terlalu cepat berpikir bahwa dengan saling menggenggam tangan masing masing lalu kita mampu melangkah bersama. Cinta tidak sesederhana pemikiranku, wanita awal 20-an. Yang terlalu berpikir kalau cinta mampu mengalahkan dunia, tidak.
Seperti berusaha menyatukan dua batu di satu tempat yang sama, iya sulit dan tidak mudah. Tetap bisa menyatu tapi tidak melebur. Mengapa bersamamu sepertinya sangat sulit? mengapa cinta saja tidak cukup menjadi alasan untuk menjalani hidup ini bersamamu dengan lebih mudah? Aku tidak mampu menahan setiap tekanan. Tapi setiap aku membayangkan kalau aku akan bertemu kamu lagi setelah hari perpisahan kita yang mungkin saja terjadi, rasa-rasanya aku tidak akan menemukan seseorang yang sama seperti mu untuk kedua kalinya untuk menemaniku dalam dunia milikku. Bahkan hanya memikirkan melihat senyummu nanti setelah hari perpisahan kita terjadi sudah sangat menyakitkan, karena aku tahu senyummu bukan karenaku dan bukan untukku. Mmapukah aku mendengar namamu disebut atau ketika wajahmu tibatiba muncul di otakku dan tidak merasa seperti yang aku rasakan sekarang? Apakah memang melepaskan jalan terbaik kita? Agar tidak meneruskan luka yang sudah tercipta ini?
Nyatanya membawa cinta kita ke langkah selanjutnya sangat tidak mudah, nyatanya membawa cinta kita ke tingkat berikutnya bukan tentang kita berdua lagi, bukan tentang aku dan diri mu. Nyatanya dengan cinta saja tidak cukup ya sayang :")
Tapi aku tahu kamu tidak menyadari ada yang mati dalam dadaku, ada yang mati dalam diriku. Dan mungkin kita akan terlambat menyadari nya.
Aku tidak tahu senja mana yang akan menjadi senja kita, tapi bila nanti senja terakhir kita tiba ingatlah selalu senja itu untukku, walau hatimu berubah walau duniaku berubah. Ingatlah bahwa pernah ada wanita yang jatuh hati pada senja yang mencoba meleburkan senjanya dengan langit malammu.
Karena kamu memang tidak menunjukkan kalau kamu menyadari sesuatu yang salah tentang kita.
Sebentar aku tertawa lalu membalas pelukanmu, sebentar kemudian keadaan berubah 180 derajat. Lalu kita akan saling menatap dengan amarah di matamu, iya aku melihatnya.
Aku menghela nafasku bersamaan dengan semua kejadian seperti terulang di dalam otakku. Semuanya aku simpan dalam hati, karena lebih mudah daripada harus menjelaskan kepadamu, kamu yang kelihatannya sama tapi berbeda. Bahkan aku masih memikirkan mengapa kamu mempertahankan ini semua, kamu menyayangiku? Kalau memang kamu menyayangiku harusnya tidak seperti ini.
Dan airmataku mulai jatuh, semua ini mulai terasa mengganggu pikiranku, karena terjadi terlalu sering dalam kurun waktu yang singkat. Kamu mengganggap aku mendahulukan ego ku dan aku beranggapan bahwa kamu sama sekali tidak mengerti apa maksudku dari awal. TIDAK AKAN MENEMUKAN TITIK PUSAT, tidak akan. Semuanya seperti perlahan tapi pasti menjauh dari pandanganku. Rencana kita, semua bayangan hari hari nanti yang akan aku lewati bersamamu, terasa jauh dan tidak mungkin sama sekali.
Aku tidak akan memulai bicara kepadamu lagi. Rasanya seperti berputar di tempat. Was it just a lie baby? Lalu sepertinya kita terlalu cepat menyimpulkan cinta kita kuat menghadapi dunia, terlalu cepat berpikir bahwa dengan saling menggenggam tangan masing masing lalu kita mampu melangkah bersama. Cinta tidak sesederhana pemikiranku, wanita awal 20-an. Yang terlalu berpikir kalau cinta mampu mengalahkan dunia, tidak.
Seperti berusaha menyatukan dua batu di satu tempat yang sama, iya sulit dan tidak mudah. Tetap bisa menyatu tapi tidak melebur. Mengapa bersamamu sepertinya sangat sulit? mengapa cinta saja tidak cukup menjadi alasan untuk menjalani hidup ini bersamamu dengan lebih mudah? Aku tidak mampu menahan setiap tekanan. Tapi setiap aku membayangkan kalau aku akan bertemu kamu lagi setelah hari perpisahan kita yang mungkin saja terjadi, rasa-rasanya aku tidak akan menemukan seseorang yang sama seperti mu untuk kedua kalinya untuk menemaniku dalam dunia milikku. Bahkan hanya memikirkan melihat senyummu nanti setelah hari perpisahan kita terjadi sudah sangat menyakitkan, karena aku tahu senyummu bukan karenaku dan bukan untukku. Mmapukah aku mendengar namamu disebut atau ketika wajahmu tibatiba muncul di otakku dan tidak merasa seperti yang aku rasakan sekarang? Apakah memang melepaskan jalan terbaik kita? Agar tidak meneruskan luka yang sudah tercipta ini?
Nyatanya membawa cinta kita ke langkah selanjutnya sangat tidak mudah, nyatanya membawa cinta kita ke tingkat berikutnya bukan tentang kita berdua lagi, bukan tentang aku dan diri mu. Nyatanya dengan cinta saja tidak cukup ya sayang :")
Tapi aku tahu kamu tidak menyadari ada yang mati dalam dadaku, ada yang mati dalam diriku. Dan mungkin kita akan terlambat menyadari nya.
Aku tidak tahu senja mana yang akan menjadi senja kita, tapi bila nanti senja terakhir kita tiba ingatlah selalu senja itu untukku, walau hatimu berubah walau duniaku berubah. Ingatlah bahwa pernah ada wanita yang jatuh hati pada senja yang mencoba meleburkan senjanya dengan langit malammu.
Minggu, 22 Februari 2015
122-123
Minggu,22 februari 2015
"Bae,aku seneng bisa sama kamu. Bisa jadi sesuatu yang kamu anggap spesial" lalu rasa hangat memenuhi dadaku. "Iyalah,kan kamu pake telur hahaha" balas mu, seperti biasa ketika aku atau kamu memberikan masing-masing susunan kalimat puitis yang di rancang semanis mungkin,maka gurauan lah balasannya. Tidak,aku tidak tersinggung atau merasa tidak dihargai. Memang seperti itu cara kerja hubungan kita,aku dan kamu. Tidak biasa,meletup-letup. Baik ketika bunga bunga ada di dalam hati atau ketika api membakar semuanya. Tapi aku menyukainya,sungguh aku menyukai "sistem kerja" hubungan kita.
Tadi siang,kamu menatap layar laptopmu dengan serius. Sesekali umpatan umpatan kecil kamu teriakan beserta ekspresi seperti kamu yang berada di pertempuran dengan sniper dan shotgun. Aku sedang tidak tertarik,kamu tahu aku juga menyukai permainan permainan yang membuat siapa saja yang bermain permainan itu tenggelam di dalamnya. Jadi aku membuka layar laptopku lalu aku memainkan lagu balada cinta dengan lirik mahal dan suara khas penyanyinya. "Bae..." kamu sudah mem-pause permainanmu,dengan wajah manja dan lengan terbuka kamu memanggilku agar mendekat. Dan aku jatuhkan daguku di atas pundakmu,aku bisa rasakan detak jantungmu dari balik susunan tulang di rongga dadamu,juga tangan kokohmu yang membuatku merasa kecil dalam dekapanmu. Aku mempererat lingkaran yang ku buat dengan tanganku di lehermu. "Saat kau di sisiku,kembali dunia ceria. Tegaskan bahwa kamu,anugrah terindah yang pernah ku miliki" suara serak sengau khas Duta dan lirik yang entah dengan tepatnya mengubah perasaanku menjadi kata kata. Beberapa detik kamu masih memejamkan kedua matamu,tanpa sepatah kata tanpa tatapan yang saling bertemu. Aku mengerti kamu mengerti,bahwa hati kita yang sedang berkata kata yang hanya kamu dan aku dapat mengerti. Lalu kamu melonggarkan dekapanmu,dan mendaratkan kecupan manis pada pelipisku.
Jumat,20 februari 2015
Berulang kali aku mengecek ponselku,ku ketuk ketuk kan jariku di atas layar ponsel yang daritadi hanya diam,tanpa suara tanpa getaran tanda pesan masuk. "Ini kan hari kita,kamu kemana" bisikku gusar dalam hati. Ah,aku sedang berada dalam puncak rindu rindunya ditambah hari ini tanggal milik kita,dan kamu menghilang.. benar benar menguji kesabaran. Aku harus mengaku kalah pada rindu,akan kedatangannya yang tiba tiba namun merasuk cepat dalam hatiku. Yang dengan jentikkan jarinya lalu seketika sesak memenuhi dada dan mataku mulai meraba-raba mencoba mencari sosokmu yang aku tahu tidak akan muncul di hadapanku,lalu telingaku menajam setiap terdengar deru sepeda motor yang hampir sama dengan milikmu memecah keheningan siang hari itu namun aku menyadari itu hanya ilusi yang ditimbulkan otakku atau aku yang berharap kamu tiba tiba muncul dengan senyum hangat milikmu?
Drrt drrt.... ponselku bergetar,segera aku sambar ponselku untuk melihat apa yang menyebabkan nya mengeluarkan notifikasi pesan. Yay! Pekikan kecil keluar dari bibirku tanpa ku sadari. "Aku mau ke rumahmu,tunggu ya". Kamu tahu,aku tidak pernah benar-benar kesal saat kamu kadang sibuk dengan kepentinganmu. Hanya saja rindu ini terkadang terlalu menggebu-gebu,entah sihir apa yang sudah kamu rapalkan untuk hatiku.
Dan akhirnya aku bisa merengkuhmu tanpa jarak lagi dalam pelukanku. Dan akhirnya aku bisa menikmati senyuman dan tatapan teduhmu yang tak pernah gagal mempercepat detak jantungku.
"Bae,aku seneng bisa sama kamu. Bisa jadi sesuatu yang kamu anggap spesial" lalu rasa hangat memenuhi dadaku. "Iyalah,kan kamu pake telur hahaha" balas mu, seperti biasa ketika aku atau kamu memberikan masing-masing susunan kalimat puitis yang di rancang semanis mungkin,maka gurauan lah balasannya. Tidak,aku tidak tersinggung atau merasa tidak dihargai. Memang seperti itu cara kerja hubungan kita,aku dan kamu. Tidak biasa,meletup-letup. Baik ketika bunga bunga ada di dalam hati atau ketika api membakar semuanya. Tapi aku menyukainya,sungguh aku menyukai "sistem kerja" hubungan kita.
Tadi siang,kamu menatap layar laptopmu dengan serius. Sesekali umpatan umpatan kecil kamu teriakan beserta ekspresi seperti kamu yang berada di pertempuran dengan sniper dan shotgun. Aku sedang tidak tertarik,kamu tahu aku juga menyukai permainan permainan yang membuat siapa saja yang bermain permainan itu tenggelam di dalamnya. Jadi aku membuka layar laptopku lalu aku memainkan lagu balada cinta dengan lirik mahal dan suara khas penyanyinya. "Bae..." kamu sudah mem-pause permainanmu,dengan wajah manja dan lengan terbuka kamu memanggilku agar mendekat. Dan aku jatuhkan daguku di atas pundakmu,aku bisa rasakan detak jantungmu dari balik susunan tulang di rongga dadamu,juga tangan kokohmu yang membuatku merasa kecil dalam dekapanmu. Aku mempererat lingkaran yang ku buat dengan tanganku di lehermu. "Saat kau di sisiku,kembali dunia ceria. Tegaskan bahwa kamu,anugrah terindah yang pernah ku miliki" suara serak sengau khas Duta dan lirik yang entah dengan tepatnya mengubah perasaanku menjadi kata kata. Beberapa detik kamu masih memejamkan kedua matamu,tanpa sepatah kata tanpa tatapan yang saling bertemu. Aku mengerti kamu mengerti,bahwa hati kita yang sedang berkata kata yang hanya kamu dan aku dapat mengerti. Lalu kamu melonggarkan dekapanmu,dan mendaratkan kecupan manis pada pelipisku.
Jumat,20 februari 2015
Berulang kali aku mengecek ponselku,ku ketuk ketuk kan jariku di atas layar ponsel yang daritadi hanya diam,tanpa suara tanpa getaran tanda pesan masuk. "Ini kan hari kita,kamu kemana" bisikku gusar dalam hati. Ah,aku sedang berada dalam puncak rindu rindunya ditambah hari ini tanggal milik kita,dan kamu menghilang.. benar benar menguji kesabaran. Aku harus mengaku kalah pada rindu,akan kedatangannya yang tiba tiba namun merasuk cepat dalam hatiku. Yang dengan jentikkan jarinya lalu seketika sesak memenuhi dada dan mataku mulai meraba-raba mencoba mencari sosokmu yang aku tahu tidak akan muncul di hadapanku,lalu telingaku menajam setiap terdengar deru sepeda motor yang hampir sama dengan milikmu memecah keheningan siang hari itu namun aku menyadari itu hanya ilusi yang ditimbulkan otakku atau aku yang berharap kamu tiba tiba muncul dengan senyum hangat milikmu?
Drrt drrt.... ponselku bergetar,segera aku sambar ponselku untuk melihat apa yang menyebabkan nya mengeluarkan notifikasi pesan. Yay! Pekikan kecil keluar dari bibirku tanpa ku sadari. "Aku mau ke rumahmu,tunggu ya". Kamu tahu,aku tidak pernah benar-benar kesal saat kamu kadang sibuk dengan kepentinganmu. Hanya saja rindu ini terkadang terlalu menggebu-gebu,entah sihir apa yang sudah kamu rapalkan untuk hatiku.
Dan akhirnya aku bisa merengkuhmu tanpa jarak lagi dalam pelukanku. Dan akhirnya aku bisa menikmati senyuman dan tatapan teduhmu yang tak pernah gagal mempercepat detak jantungku.
Minggu, 01 Februari 2015
Sesuatu Tentang Memaafkan
Ada beberapa hal yang baru aku mengerti, ada beberapa kenyataan hidup yang aku jadikan pelajaran. Salah satunya tentang memaafkan. Sesuatu tentang memaafkan.
Ada sesuatu yang menghantui ku, entah mau ku sebut bagaimana tapi ketika aku melihat ke dalam tatapanmu, lebih tepatnya menenggelamkan diriku sendiri seperti yang sudah sangat sering aku lakukan, aku menyadari sesuatu. Iya aku menyayangimu, aku menyayangimu sampai sampai rasa sayangku mampu menyembuhkan luka itu sendiri
Dan kenyataan membawa kaki ini menapak kembali pada permukaan bumi, aku sudah terbang dan membiarkan hati ku sendiri tertiup amarahku yang aku sulut sendiri.
Aku sadar, walaupun aku bertahan dengan luka ini tapi kamu tidak membiarkannya. Kamu tahu aku terluka, kamu sadar kamu yang menimbulkan luka itu, dan kamu juga satusatu nya yang dapat mengembalikan hatiku ke bentuk semula walaupun tidak sempurna. Perasaan ini masih belum habis, atau mungkin tidak akan habis. Kamu tidak tahu seberapa besar hati mu mampu menerima seseorang secara utuh, sampai kamu di paksa menggunakan kebesaran hatimu sendiri.
Kisah ini bukan kisah murahan yang biasa kita tertawakan ketika menyaksikan opera sabun di televisi, tidak. Tidak kisah tentang aku dan kamu. Cinta kita terlalu besar kalau hanya bisa hancur karena pihak pihak yang memang tidak menginginkan telapak tanganmu bertemu dengan telapak tanganku. Tapi, terimakasih. Terimakasih kalian membuat saya dan dia menyadari kalau kisah yang sedang kami rajut bukan sekedar kisah cinta buaian tidur milik kalian, bukan juga kisah cinta "setengah matang" yang kalian pikir selama ini kami lakukan. Tidak, kisah saya dan dia lebih dari sekedar cinta negri dongeng.
Ada malam ketika angin bertiup merasuk ke setiap inci dari tulangku, Ada hari ketika matahari rasanya garang membakar kulit, dan merubah airmata menjadi debu. Dan aku tidak akan membiarkanmu menjauh atau pergi lagi dari sisi ku, tidak pernah lagi sekalipun.
Dan aku menerimamu, aku menyayangimu dengan segala yang kamu punya, buruk dan baik. Aku bisa melewati ini semua, asal kamu mau terus menggenggam tanganku tanpa kamu lepaskan.
Semua bisa terasa sangat salah, semua tentang kamu adalah keadaan dimana sesuatu terjadi dengan cepat dan dalam. Aku tidak takut jatuh cinta lagi jika itu kepadamu, aku tidak takut membiarkan orang lain memeluk hatiku jika itu kamu, aku tidak takut memaafkan lagi jika itu kamu.
Sesuatu tentang memaafkan, sesuatu yang membahagiakan. Seperti melepas beban, seperti melepaskan suatu belenggu, seperti berjalan tanpa sesuatu yang membayang-bayangi. Lebih seperti kembali kepada senyumku yang lama, yang mungkin membuatmu jatuh cinta. Seperti memelukmu ketika aku terlalu lelah karena hidup memperlakukanku semaunya, iya. Menyenangkan. Cintaku tidak bersyarat.
Aku yakin, setelah semua ini pelukanmu akan tetap menjadi kesukaanku, dan tawamu masih menghipnotisku, dan kamu masih menjadi rumahku, tempat aku kembali :)
Aku tidak peduli, aku tidak mau membuat mu tersiksa lagi, aku lebih tidak peduli, aku mau menggenggam jemarimu, menyandarkan kepalaku pada bahumu, menikmati aroma tubuhmu, merasakan hangat pelukmu lagi yang nyatanya mampu menarik ku kembali.
Ada sesuatu yang menghantui ku, entah mau ku sebut bagaimana tapi ketika aku melihat ke dalam tatapanmu, lebih tepatnya menenggelamkan diriku sendiri seperti yang sudah sangat sering aku lakukan, aku menyadari sesuatu. Iya aku menyayangimu, aku menyayangimu sampai sampai rasa sayangku mampu menyembuhkan luka itu sendiri
Dan kenyataan membawa kaki ini menapak kembali pada permukaan bumi, aku sudah terbang dan membiarkan hati ku sendiri tertiup amarahku yang aku sulut sendiri.
Aku sadar, walaupun aku bertahan dengan luka ini tapi kamu tidak membiarkannya. Kamu tahu aku terluka, kamu sadar kamu yang menimbulkan luka itu, dan kamu juga satusatu nya yang dapat mengembalikan hatiku ke bentuk semula walaupun tidak sempurna. Perasaan ini masih belum habis, atau mungkin tidak akan habis. Kamu tidak tahu seberapa besar hati mu mampu menerima seseorang secara utuh, sampai kamu di paksa menggunakan kebesaran hatimu sendiri.
Kisah ini bukan kisah murahan yang biasa kita tertawakan ketika menyaksikan opera sabun di televisi, tidak. Tidak kisah tentang aku dan kamu. Cinta kita terlalu besar kalau hanya bisa hancur karena pihak pihak yang memang tidak menginginkan telapak tanganmu bertemu dengan telapak tanganku. Tapi, terimakasih. Terimakasih kalian membuat saya dan dia menyadari kalau kisah yang sedang kami rajut bukan sekedar kisah cinta buaian tidur milik kalian, bukan juga kisah cinta "setengah matang" yang kalian pikir selama ini kami lakukan. Tidak, kisah saya dan dia lebih dari sekedar cinta negri dongeng.
Ada malam ketika angin bertiup merasuk ke setiap inci dari tulangku, Ada hari ketika matahari rasanya garang membakar kulit, dan merubah airmata menjadi debu. Dan aku tidak akan membiarkanmu menjauh atau pergi lagi dari sisi ku, tidak pernah lagi sekalipun.
Dan aku menerimamu, aku menyayangimu dengan segala yang kamu punya, buruk dan baik. Aku bisa melewati ini semua, asal kamu mau terus menggenggam tanganku tanpa kamu lepaskan.
Semua bisa terasa sangat salah, semua tentang kamu adalah keadaan dimana sesuatu terjadi dengan cepat dan dalam. Aku tidak takut jatuh cinta lagi jika itu kepadamu, aku tidak takut membiarkan orang lain memeluk hatiku jika itu kamu, aku tidak takut memaafkan lagi jika itu kamu.
Sesuatu tentang memaafkan, sesuatu yang membahagiakan. Seperti melepas beban, seperti melepaskan suatu belenggu, seperti berjalan tanpa sesuatu yang membayang-bayangi. Lebih seperti kembali kepada senyumku yang lama, yang mungkin membuatmu jatuh cinta. Seperti memelukmu ketika aku terlalu lelah karena hidup memperlakukanku semaunya, iya. Menyenangkan. Cintaku tidak bersyarat.
Aku yakin, setelah semua ini pelukanmu akan tetap menjadi kesukaanku, dan tawamu masih menghipnotisku, dan kamu masih menjadi rumahku, tempat aku kembali :)
Aku tidak peduli, aku tidak mau membuat mu tersiksa lagi, aku lebih tidak peduli, aku mau menggenggam jemarimu, menyandarkan kepalaku pada bahumu, menikmati aroma tubuhmu, merasakan hangat pelukmu lagi yang nyatanya mampu menarik ku kembali.
"Bahkan embun tidak butuh warna untuk membuat daun jatuh cinta"
Minggu, 25 Januari 2015
Perih
Iya, masih terasa perih. Luka ini masih terhitung baru. Aku tidak tahu mengapa atau apa yang mengakibatkan ini semua. Tidak bisa menemukan alasan.
Yang aku tahu, semenjak kejadian malam hari itu, aku masih mencari cari senyum bahagiaku yang dulu pernah terbentuk di bibirku. Kosong, hampa, hilang. Ada sesuatu yang tak pernah kembali semenjak malam itu, mungkin senyumku masih sama. mungkin tawaku masih se ceria hari hari sebelum malam itu. Mungkin begini yang orang katakan dengan kecewa terlalu dalam. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku masih terdiam setiap kejadian itu terulang jelas dalam kepalaku.
Mungkin aku meragu, entah meragu yang bagaimana.
Aku tidak seyakin dulu, aku tidak menemukan apa yang dulu aku temukan dalam tatapan teduhmu yang membuatku jatuh cinta. Aku tidak lagi menatapmu dengan cara yang sama, mungkin tidak benar benar tersirat, dan aku tau kau tidak akan menyadarinya.
Aku bodoh, sudah memberikan seluruh kepercayaan ku kepadamu, tetapi aku tidak pernah menyesali seluruh cinta ku yang hanya untukmu, karena memang cintaku hanya untukmu.
Salahku. Salahku yang mengartikan semua ini sebagai sesuatu yg nyata. Salahku yang terlalu dalam terjatuh dalam tatapan teduhmu, salahku yang terlalu merasa pelukanmu hanya untukku.
Aku tidak tahu kalau kalau sakit karena jatuh cinta bisa menimbulkan efek yang sebesar ini. Tepatnya, aku tidak tahu seberapa dalam aku mencintaimu sampai kamu menyadarkan ku dari mimpi negri dongeng yang ku susun dalam otakku setiap malam sebelum tidur dengan senyum dan rasa hangat menemani di dalam dada. Aku terjatuh terlalu dalam, kelewat dalam kalau hanya untuk di hempaskan keras oleh kenyataan.
aku tahu yang kamu pikirkan sekarang.. "Katamu kamu sudah memaafkanku", aku sudah memaafkanmu. Tapi luka yang kau timbulkan tidak kunjung memudar. Masih timbulkan kegaduhan dalam jiwaku, masih memporak porandakan pikiranku dan menjatuhkan setiap tembok yang aku bangun untuk melindungi hatiku sendiri.
Kali ini, aku tidak akan memberikan halaman ini kepadamu untuk kamu baca. Hanya, kalau nanti aku tidak bisa bertahan, maafkan aku. Bukan aku tidak sanggup, bukan aku tidak mau bertahan. Hanya ada beberapa hal yang lebih baik di lepaskan. Seperti katamu, kamu tidak yakin. Aku juga tidak akan berharap terlalu dalam untuk harapan yang kamu beri padaku, karena kamu sendiri masih tidak yakin akan harapan itu sendiri. Semoga kamu bisa menemukan jawabannya dalam tulisanku.
Beberapa baris lirik lagu ini bisa mewakilkan :)
Tak Kusesali cintaku untukmu
Meskipun dirimu, tak nyata untukku
Sejak pertama kau mengisi hari - hariku
Aku telah meragu mengapa harus dirimu
Aku takkan bertahan
Bila tak teryakinkan
Sesungguhnya cintaku
Memang hanya untukmu
Sungguh ku tak Menahan, bila jalan suratan
Menuliskan dirimu memang bukan untukku,
Selamanya.
Kadang aku lelah menantimu, pastikan cinta untukku
Yang aku tahu, semenjak kejadian malam hari itu, aku masih mencari cari senyum bahagiaku yang dulu pernah terbentuk di bibirku. Kosong, hampa, hilang. Ada sesuatu yang tak pernah kembali semenjak malam itu, mungkin senyumku masih sama. mungkin tawaku masih se ceria hari hari sebelum malam itu. Mungkin begini yang orang katakan dengan kecewa terlalu dalam. Aku bahkan tidak tahu kenapa aku masih terdiam setiap kejadian itu terulang jelas dalam kepalaku.
Mungkin aku meragu, entah meragu yang bagaimana.
Aku tidak seyakin dulu, aku tidak menemukan apa yang dulu aku temukan dalam tatapan teduhmu yang membuatku jatuh cinta. Aku tidak lagi menatapmu dengan cara yang sama, mungkin tidak benar benar tersirat, dan aku tau kau tidak akan menyadarinya.
Aku bodoh, sudah memberikan seluruh kepercayaan ku kepadamu, tetapi aku tidak pernah menyesali seluruh cinta ku yang hanya untukmu, karena memang cintaku hanya untukmu.
Salahku. Salahku yang mengartikan semua ini sebagai sesuatu yg nyata. Salahku yang terlalu dalam terjatuh dalam tatapan teduhmu, salahku yang terlalu merasa pelukanmu hanya untukku.
Aku tidak tahu kalau kalau sakit karena jatuh cinta bisa menimbulkan efek yang sebesar ini. Tepatnya, aku tidak tahu seberapa dalam aku mencintaimu sampai kamu menyadarkan ku dari mimpi negri dongeng yang ku susun dalam otakku setiap malam sebelum tidur dengan senyum dan rasa hangat menemani di dalam dada. Aku terjatuh terlalu dalam, kelewat dalam kalau hanya untuk di hempaskan keras oleh kenyataan.
aku tahu yang kamu pikirkan sekarang.. "Katamu kamu sudah memaafkanku", aku sudah memaafkanmu. Tapi luka yang kau timbulkan tidak kunjung memudar. Masih timbulkan kegaduhan dalam jiwaku, masih memporak porandakan pikiranku dan menjatuhkan setiap tembok yang aku bangun untuk melindungi hatiku sendiri.
Kali ini, aku tidak akan memberikan halaman ini kepadamu untuk kamu baca. Hanya, kalau nanti aku tidak bisa bertahan, maafkan aku. Bukan aku tidak sanggup, bukan aku tidak mau bertahan. Hanya ada beberapa hal yang lebih baik di lepaskan. Seperti katamu, kamu tidak yakin. Aku juga tidak akan berharap terlalu dalam untuk harapan yang kamu beri padaku, karena kamu sendiri masih tidak yakin akan harapan itu sendiri. Semoga kamu bisa menemukan jawabannya dalam tulisanku.
Beberapa baris lirik lagu ini bisa mewakilkan :)
Tak Kusesali cintaku untukmu
Meskipun dirimu, tak nyata untukku
Sejak pertama kau mengisi hari - hariku
Aku telah meragu mengapa harus dirimu
Aku takkan bertahan
Bila tak teryakinkan
Sesungguhnya cintaku
Memang hanya untukmu
Sungguh ku tak Menahan, bila jalan suratan
Menuliskan dirimu memang bukan untukku,
Selamanya.
Kadang aku lelah menantimu, pastikan cinta untukku
Rabu, 21 Januari 2015
Lihat aku
Entah sudah berapa hela nafas yang ku hembuskan sedikit lebih keras hanya agar mengurangi rasa yang terlalu tajam dalam hatiku. Beberapa hari ini aku seperti memerankan 2 tokoh yang memang sangat berbeda. Dan pertemuan malam itu masih menjadi alasan mengapa aku sedih lalu uring-uring an. Lalu tenggelam dalam diam yang hanya aku miliki sendiri.
Rasa hangat memenuhi pelupuk mataku karen airmata mulai terkumpul disana,aku menutup kedua kelopak mata ku masih berusaha membebaskan hatiku dari rasa carut marut yang kau timbulkan. Kenapa sedalam ini? Kenapa sesakit ini?
Ada yang berbeda dengan rasa sedihku,atau rasa apapun yang aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Aku sangat sadar aku sangat sedih terlebih kecewa,tapi aku tidak bisa menjatuhkan airmataku dengan deras seperti sebelum-sebelumnya ketika aku di kecewakan. Aku pun tidak bisa menjatuhkanmu dengan amarahku yang biasa nya akan meledak jika keadaannya seperti ini. Aku sangat sedih,aku juga marah,tapi jauh dalam lubuk hatiku aku merasa kecewa. Mungkin terlalu kecewa sehingga menangis pun aku lupa,mungkin terlalu kecewa sehingga aku melakukan penolakan terhadap kenyataan yang menghempas, keras.
Tolong koreksi aku kalau pernyataan serta keputusanku nampak salah dalam pandanganmu. Tolong koreksi aku jika seharusnya aku tidak mempertaruhkan seluruh hati yang aku punya. Karena sepertinya sekarang aku tidak punya hati,atau lebih tepatnya kehilangan kemampuan menggunakan hati. Iya terimakasih,sungguh kamu sudah mengajariku bagaimana bertahan dalam luka dan memaafkan.
Bahkan meletakkan kepalaku di pundakmu setelah semuanya terkuak pun hatiku masih berteriak teriak "aku menyayangimu". Kenapa?
Sepertinya aku melakukan banyak kesalahan disini. Sepertinya aku menghancurkan kebahagiaan seseorang disini. Mungkin memang ada harga yang harus aku bayar untuk bersamamu.
"Kenapa kamu bisa melakukannya? Apa yang harus aku mengerti dari ini semua? Lalu apa artinya kehadiranku kalau hanya menjadi selingan dalam luka masa lalu mu?" Aku tidak bisa menghindar dari pertanyaan retoris seperti itu yang terus bermunculan dalam benakku. Sampai saat ini aku belum menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya. Karena aku tau menangis hanya akan merobekkan luka ini saja,tidak membantu apa apa.
Kenapa otak ku tidak bisa berhenti menyalahkanmu? Aku tau aku sudah memaafkanmu,aku sudah memaafkanmu sayang. Tapi kenapa masih saja sakitnya muncul di permukaan?
Maafkan aku,aku belum bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku masih sibuk menyanggah setiap fakta yang harusnya aku sadari sudah terjadi. Ketika kamu mempercayai sepenuhnya hatimu kepada orang lain,ketika kamu menyayanginya dan setiap yang kamu lakukan kamu berharap dia melakukan hal yang sama sepertimu. Dan kenyataan menamparmu keras. Wanita bodoh! Terlalu banyak berfikir,terlalu tinggi berharap! Kamu pikir secara ajaib kamu bisa menghapus kenangan dari otak seseorang dengan jentikkan jarimu?
Kamu jahat! Kamu biarkan aku berharap ketika kamu sendiri pun tidak yakin akan harapan yang kamu berikan.
Aku masih belum bisa menata hatiku,masih berusaha menata hatiku.
Dari langit sore pada senjamu,yang akan tetap mendatangi senjanya sekedar mencari kehangatan.
Rasa hangat memenuhi pelupuk mataku karen airmata mulai terkumpul disana,aku menutup kedua kelopak mata ku masih berusaha membebaskan hatiku dari rasa carut marut yang kau timbulkan. Kenapa sedalam ini? Kenapa sesakit ini?
Ada yang berbeda dengan rasa sedihku,atau rasa apapun yang aku tidak tahu bagaimana menyebutnya. Aku sangat sadar aku sangat sedih terlebih kecewa,tapi aku tidak bisa menjatuhkan airmataku dengan deras seperti sebelum-sebelumnya ketika aku di kecewakan. Aku pun tidak bisa menjatuhkanmu dengan amarahku yang biasa nya akan meledak jika keadaannya seperti ini. Aku sangat sedih,aku juga marah,tapi jauh dalam lubuk hatiku aku merasa kecewa. Mungkin terlalu kecewa sehingga menangis pun aku lupa,mungkin terlalu kecewa sehingga aku melakukan penolakan terhadap kenyataan yang menghempas, keras.
Tolong koreksi aku kalau pernyataan serta keputusanku nampak salah dalam pandanganmu. Tolong koreksi aku jika seharusnya aku tidak mempertaruhkan seluruh hati yang aku punya. Karena sepertinya sekarang aku tidak punya hati,atau lebih tepatnya kehilangan kemampuan menggunakan hati. Iya terimakasih,sungguh kamu sudah mengajariku bagaimana bertahan dalam luka dan memaafkan.
Bahkan meletakkan kepalaku di pundakmu setelah semuanya terkuak pun hatiku masih berteriak teriak "aku menyayangimu". Kenapa?
Sepertinya aku melakukan banyak kesalahan disini. Sepertinya aku menghancurkan kebahagiaan seseorang disini. Mungkin memang ada harga yang harus aku bayar untuk bersamamu.
"Kenapa kamu bisa melakukannya? Apa yang harus aku mengerti dari ini semua? Lalu apa artinya kehadiranku kalau hanya menjadi selingan dalam luka masa lalu mu?" Aku tidak bisa menghindar dari pertanyaan retoris seperti itu yang terus bermunculan dalam benakku. Sampai saat ini aku belum menangis seperti anak kecil kehilangan mainannya. Karena aku tau menangis hanya akan merobekkan luka ini saja,tidak membantu apa apa.
Kenapa otak ku tidak bisa berhenti menyalahkanmu? Aku tau aku sudah memaafkanmu,aku sudah memaafkanmu sayang. Tapi kenapa masih saja sakitnya muncul di permukaan?
Maafkan aku,aku belum bisa berdamai dengan diriku sendiri. Aku masih sibuk menyanggah setiap fakta yang harusnya aku sadari sudah terjadi. Ketika kamu mempercayai sepenuhnya hatimu kepada orang lain,ketika kamu menyayanginya dan setiap yang kamu lakukan kamu berharap dia melakukan hal yang sama sepertimu. Dan kenyataan menamparmu keras. Wanita bodoh! Terlalu banyak berfikir,terlalu tinggi berharap! Kamu pikir secara ajaib kamu bisa menghapus kenangan dari otak seseorang dengan jentikkan jarimu?
Kamu jahat! Kamu biarkan aku berharap ketika kamu sendiri pun tidak yakin akan harapan yang kamu berikan.
Aku masih belum bisa menata hatiku,masih berusaha menata hatiku.
Dari langit sore pada senjamu,yang akan tetap mendatangi senjanya sekedar mencari kehangatan.
Sabtu, 03 Januari 2015
Nyanyian hujanmu dalam sanubariku
Dan suara yang sangat akrab dalam telingaku menyadarkanku dari tidur lelap singkatku, aku coba membuka mataku. Ah ternyata hujan, tiupan angin tipis namun terasa sampai ke dalam tulangku membuatku menarik selimut yang telah ku sibakkan. Dan aku memejamkan mataku, sebentuk wajah terbentuk dari gelapnya pandanganku, seketika cairan hangat seperti mengalir dalam hatiku menimbulkan kenyamanan yang selama ini aku rasakan.
Di hari hujan seperti ini, di tengah suara air menyentuh bumi, di tengah suara petir membelah langit dari kejauhan. Alam semesta ini memiliki pesan akan keindahan kepada siapapun yang dapat menangkapnya. Sama seperti kehadiranmu, jujur tanpa sandiwara menarik tanganku untuk berlari dalam genggamanmu. Yang dimana kehangatan dari pertemuan telapak tangan mu dengan telapak tanganku merasuk ke setiap inci dari nadiku sampai kepada hatiku membuatku menghela nafas.
Hujan kali ini terasa sangat istimewa karena jatuh membasahi kedatangan langit senjaku. Kamu adalah matahari senjaku, yang tidak akan tertutup walau terburamkan oleh bulir bulir hujan yang mengalir melewati setiap inci jendelaku. Cahaya mataharimu melesak masuk melalui setiap celah mencoba mendekapku dengan hangatmu. Iya, kamu hangat dan aku menyukai keteduhanmu yang menenangkan.
Karena aku suka hujan, dan aku adalah penikmat senja. Dan kamu adalah keindahan di antara hujan dan cahaya senjaku, kamu juga suka hujan. Kita sama sama suka hujan. Walau aku lebih menyukai hujan gerimis tipis awal november, yang hanya timbulkan ketenangan tanpa bencana. Semua orang punya perbedaan mengenai selera bukan? Dan dalam rengkuhan langit senja janji antara kita pun terucapkan.
Sore itu, aku baru saja memalingkan tatapanku dari awan sore yang terpecah dan terobek indah dari cahaya matahari seakan mempertahankan cahaya agar tetap berada dalam sela-sela jemari awan yang sudah terbelah menimbulkan gambaran tak terbayarkan dalam mataku. Lalu aku jatuhkan tatapanku pada mu yang sedang tersenyum simpul tepat di hadapanku. "Kamu mau gak jadi pacarku? Dalam bahagia ataupun sedih sama aku?" Nafasku pun tercekat, seperti masih meneliti ke dalam matamu mencoba mencari cari apa maksud dari kata kata yang baru saja ku dengar, mencoba mencari kebohongan atau tatapan gurauan. Tapi aku tidak menemukannya, yang aku temukan hanya tatapan tulus seorang pria meminta seorang wanita menemani dirinya menjalani hari-hari nya.
Aku masih ingat, yang terjadi selanjutnya adalah mataku memanas sambil menggangukan kepala sekuat yang aku bisa untuk membuatmu sadar kalau aku meng-iya-kan permintaanmu dengan sepenuh hatiku.
Sejak saat itu, hujan ataupun senja ataupun hujan di kala senja adalah tentang kita. Karena dalam hujan aku temukan banyak ketenangan dan keteduhan seperti yang ku temukan dari dirimu. Karena di hadapan awan sore langit senja kita memutuskan untuk bersama dalam satu pelukan. Karena hujan dan senja sama-sama menyimpan cerita tentang kita, menyimpan nyanyian hujanmu di sanubariku. Dalam. Memelukku dalam kehangatan senjamu. Erat
Di hari hujan seperti ini, di tengah suara air menyentuh bumi, di tengah suara petir membelah langit dari kejauhan. Alam semesta ini memiliki pesan akan keindahan kepada siapapun yang dapat menangkapnya. Sama seperti kehadiranmu, jujur tanpa sandiwara menarik tanganku untuk berlari dalam genggamanmu. Yang dimana kehangatan dari pertemuan telapak tangan mu dengan telapak tanganku merasuk ke setiap inci dari nadiku sampai kepada hatiku membuatku menghela nafas.
Hujan kali ini terasa sangat istimewa karena jatuh membasahi kedatangan langit senjaku. Kamu adalah matahari senjaku, yang tidak akan tertutup walau terburamkan oleh bulir bulir hujan yang mengalir melewati setiap inci jendelaku. Cahaya mataharimu melesak masuk melalui setiap celah mencoba mendekapku dengan hangatmu. Iya, kamu hangat dan aku menyukai keteduhanmu yang menenangkan.
Karena aku suka hujan, dan aku adalah penikmat senja. Dan kamu adalah keindahan di antara hujan dan cahaya senjaku, kamu juga suka hujan. Kita sama sama suka hujan. Walau aku lebih menyukai hujan gerimis tipis awal november, yang hanya timbulkan ketenangan tanpa bencana. Semua orang punya perbedaan mengenai selera bukan? Dan dalam rengkuhan langit senja janji antara kita pun terucapkan.
Sore itu, aku baru saja memalingkan tatapanku dari awan sore yang terpecah dan terobek indah dari cahaya matahari seakan mempertahankan cahaya agar tetap berada dalam sela-sela jemari awan yang sudah terbelah menimbulkan gambaran tak terbayarkan dalam mataku. Lalu aku jatuhkan tatapanku pada mu yang sedang tersenyum simpul tepat di hadapanku. "Kamu mau gak jadi pacarku? Dalam bahagia ataupun sedih sama aku?" Nafasku pun tercekat, seperti masih meneliti ke dalam matamu mencoba mencari cari apa maksud dari kata kata yang baru saja ku dengar, mencoba mencari kebohongan atau tatapan gurauan. Tapi aku tidak menemukannya, yang aku temukan hanya tatapan tulus seorang pria meminta seorang wanita menemani dirinya menjalani hari-hari nya.
Aku masih ingat, yang terjadi selanjutnya adalah mataku memanas sambil menggangukan kepala sekuat yang aku bisa untuk membuatmu sadar kalau aku meng-iya-kan permintaanmu dengan sepenuh hatiku.
Sejak saat itu, hujan ataupun senja ataupun hujan di kala senja adalah tentang kita. Karena dalam hujan aku temukan banyak ketenangan dan keteduhan seperti yang ku temukan dari dirimu. Karena di hadapan awan sore langit senja kita memutuskan untuk bersama dalam satu pelukan. Karena hujan dan senja sama-sama menyimpan cerita tentang kita, menyimpan nyanyian hujanmu di sanubariku. Dalam. Memelukku dalam kehangatan senjamu. Erat
Kamis, 01 Januari 2015
Suatu kejujuran
Malam itu, kamu hanya sejauh hembusan nafasku. Kamu tepat di ujung hidungku, sedang memejamkan mata seraya bibirmu tidak berhenti mengucapkan semua yang kamu rasakan selama ini. Aku memperhatikan setiap detail dari wajahmu, bagaimana matamu tertutup, bagaimana hidungmu menarik oksigen ke dalam paru parumu, bagaimana alismu berkerut sesuai dengan cerita yang sedang kamu tuturkan, bagaimana bibirmu membentuk kata kata.
Kata-kata yang aku tidak tahu mengapa namun mengiris hatiku, sungguh.
Dan malam ini kembali pada keadaan seperti biasa, aku menuliskan keadaan hatiku karena aku tidak cukup pandai untuk mengatakannya secara langsung, apalagi untuk aku ucapkan secara spontan di hadapanmu yang hanya sejauh hembusan nafasku.
Ingatanku terus membawaku kembali kepada malam itu, karena kata kata yang kamu ucapkan berhasil membuatku tidak memalingkan perhatianku.
"Dia mempunyai hati yang besar dalam hal mencintaiku"
Kamu tau bagaimana rasanya jadi aku saat itu? bagaimana jantungku terasa terhenti? aku tidak mengerti mengapa kata kata itu sungguh terasa perih dalam telingaku dan merasuk cepat ke hatiku. Koreksi aku jika salah, tapi aku merasa bukan sesuatu dalam hidupmu. Aku seperti berada dalam suatu kotak yang penuh berisi kenanganmu dan dirinya. Aku hanya menggenggam bagian kecil dari kotak itu.
Rasanya seperti bukan aku yang ada di dalam kotak hidupmu, rasanya kotak hidupmu masih menjadi miliknya. Bagaimana kamu menjelaskan setiap detail perjalanan kalian berdua?
Sungguh kalau aku tidak sungguh menyayangimu, pasti rasanya tidak akan sesakit dan semenyesakkan ini, sayang. Dan malam ini, dalam kesunyian dan gelap pekatnya malam akhirnya aku menjatuhkan airmataku. Aku merasa cemburu, aku merasa ingin marah, tapi aku sadar tanah yang ku pijak masih basah, belum padat untuk dapat menahan ku.
"Aku pesimis............." Sungguh? Kamu pesimis? lalu apakah kamu akan menyerah?
Menyerah lalu pergi? Sama seperti yang mereka lakukan?
Kamu tahu? kamu baru saja mematahkan semangatku, kamu baru saja menjatuhkan harapanku dengan kata-katamu. Lalu apa yang membuatmu datang dan menetap selama ini kalau hanya untuk menyerah?
Aku memang keras kepala, aku memang susah untuk dimengerti. sungguh, hanya segelintir orang yang dapat melakukannya. Dan aku berharap kamu termasuk di dalamnya. Aku sudah menerbangkan impianku, aku sudah memberikan hatiku yang paling aku jaga dan aku berikan hanya kepada yang aku percayai, dan aku percaya kamu.
Andai kamu tahu, andai bisa kamu melihat dalam hatiku. Rasakan bagaimana aku menyayangimu. Aku menyayangimu dalam diamku, aku bahkan sibuk mencintaimu dalam tawaku. Aku menyayangimu tidak seperti orang lain yang akan matimatian menunjukkannya. Aku tidak bisa seperti itu aku bukan wanita yang bisa melakukannya. Aku tidak pernah sedalam ini mencintai seseorang, ini menjawab pertanyaanmu malam itu yang hanya bisa aku jawab dengan tatapanku.
Dan aku mohon padamu, tolong jangan menyerah padaku, aku tidak bisa memaksamu karena dalam hal ini menyangkut perasaan yang memang hidup.
Hatiku tidak sebesar dia yang dulu menemanimu, namun aku berikan jiwa dan ragaku seluas luasnya untuk menyayangimu. Dan mungkin aku akan melakukan kesalahan lagi, tapi sungguh aku berusaha menjadi lebih baik hanya untukmu. Mempertahankan kenyamananmu dalam pelukanku. Egois kah aku?
Dan sayang, aku tau kamu akan membaca tulisanku. Hanya kamu yang aku sayangi sedalam ini. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana aku bersyukur untuk segala yang kita lewati, bagaimana aku tersenyum hangat dalam pelukanmu, bagaimana aku berterimakasih kepada Tuhan yang setidaknya memberikan ku menjadi salah satu bagian terkecil dalam perjalanan hidupmu. Aku bisa menjalani sebaik-baiknya bahkan melampai dari apa yang mampu aku lakukan, yang aku tahu yang aku rasakan aku menyayangimu dengan setulus hatiku. Jangan langkahkan kakimu menjauh dari aku, jangan palingkan tatapnmu dari tatapanku, tetap disini, bersamaku.
Aku harap kamu mengerti, dan kamu pasti mengerti :)
Kata-kata yang aku tidak tahu mengapa namun mengiris hatiku, sungguh.
Dan malam ini kembali pada keadaan seperti biasa, aku menuliskan keadaan hatiku karena aku tidak cukup pandai untuk mengatakannya secara langsung, apalagi untuk aku ucapkan secara spontan di hadapanmu yang hanya sejauh hembusan nafasku.
Ingatanku terus membawaku kembali kepada malam itu, karena kata kata yang kamu ucapkan berhasil membuatku tidak memalingkan perhatianku.
"Dia mempunyai hati yang besar dalam hal mencintaiku"
Kamu tau bagaimana rasanya jadi aku saat itu? bagaimana jantungku terasa terhenti? aku tidak mengerti mengapa kata kata itu sungguh terasa perih dalam telingaku dan merasuk cepat ke hatiku. Koreksi aku jika salah, tapi aku merasa bukan sesuatu dalam hidupmu. Aku seperti berada dalam suatu kotak yang penuh berisi kenanganmu dan dirinya. Aku hanya menggenggam bagian kecil dari kotak itu.
Rasanya seperti bukan aku yang ada di dalam kotak hidupmu, rasanya kotak hidupmu masih menjadi miliknya. Bagaimana kamu menjelaskan setiap detail perjalanan kalian berdua?
Sungguh kalau aku tidak sungguh menyayangimu, pasti rasanya tidak akan sesakit dan semenyesakkan ini, sayang. Dan malam ini, dalam kesunyian dan gelap pekatnya malam akhirnya aku menjatuhkan airmataku. Aku merasa cemburu, aku merasa ingin marah, tapi aku sadar tanah yang ku pijak masih basah, belum padat untuk dapat menahan ku.
"Aku pesimis............." Sungguh? Kamu pesimis? lalu apakah kamu akan menyerah?
Menyerah lalu pergi? Sama seperti yang mereka lakukan?
Kamu tahu? kamu baru saja mematahkan semangatku, kamu baru saja menjatuhkan harapanku dengan kata-katamu. Lalu apa yang membuatmu datang dan menetap selama ini kalau hanya untuk menyerah?
Aku memang keras kepala, aku memang susah untuk dimengerti. sungguh, hanya segelintir orang yang dapat melakukannya. Dan aku berharap kamu termasuk di dalamnya. Aku sudah menerbangkan impianku, aku sudah memberikan hatiku yang paling aku jaga dan aku berikan hanya kepada yang aku percayai, dan aku percaya kamu.
Andai kamu tahu, andai bisa kamu melihat dalam hatiku. Rasakan bagaimana aku menyayangimu. Aku menyayangimu dalam diamku, aku bahkan sibuk mencintaimu dalam tawaku. Aku menyayangimu tidak seperti orang lain yang akan matimatian menunjukkannya. Aku tidak bisa seperti itu aku bukan wanita yang bisa melakukannya. Aku tidak pernah sedalam ini mencintai seseorang, ini menjawab pertanyaanmu malam itu yang hanya bisa aku jawab dengan tatapanku.
Dan aku mohon padamu, tolong jangan menyerah padaku, aku tidak bisa memaksamu karena dalam hal ini menyangkut perasaan yang memang hidup.
Hatiku tidak sebesar dia yang dulu menemanimu, namun aku berikan jiwa dan ragaku seluas luasnya untuk menyayangimu. Dan mungkin aku akan melakukan kesalahan lagi, tapi sungguh aku berusaha menjadi lebih baik hanya untukmu. Mempertahankan kenyamananmu dalam pelukanku. Egois kah aku?
Dan sayang, aku tau kamu akan membaca tulisanku. Hanya kamu yang aku sayangi sedalam ini. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana aku bersyukur untuk segala yang kita lewati, bagaimana aku tersenyum hangat dalam pelukanmu, bagaimana aku berterimakasih kepada Tuhan yang setidaknya memberikan ku menjadi salah satu bagian terkecil dalam perjalanan hidupmu. Aku bisa menjalani sebaik-baiknya bahkan melampai dari apa yang mampu aku lakukan, yang aku tahu yang aku rasakan aku menyayangimu dengan setulus hatiku. Jangan langkahkan kakimu menjauh dari aku, jangan palingkan tatapnmu dari tatapanku, tetap disini, bersamaku.
Aku harap kamu mengerti, dan kamu pasti mengerti :)
5 kata yg menjadi candu,4 kata yg menyebabkannya. Rindu Kamu.
Akhirnya aku bisa merebahkan punggungku pada kursi yang rasanya lebih nyaman dari apapun.
Ku pejamkan mataku,ku hela nafasku dalam lelah. Malam ini rasanya aku menjadi wanita paling damai,setelah mendengar alunan lembut musik mengalun dan nyanyian dari choir memenuhi ruangan besar itu.
Seberapapun damai yang ku rasa,seberapa aku tersenyum,aku masih sibuk mencarimu dalam keramaian. Entah,hatiku berharap akan menemukan senyum itu,milikmu memecah kerumunan orang yang sedang menikmati atmosfir kedamaian natal itu.
Lalu ingatanku pun kembali pada hari kebersamaan kita. Aku pejamkan mataku,hanya untuk merasakan kehadiranmu secara semu namun nyata.
Aku bisa mendengar tawamu,aku dengar suara beratmu saat menenangkanku,aku rasakan tatapanmu jatuh tepat pada mataku untuk menahan kepergianku,aku bisa rasakan genggaman tanganmu dan kecupan manis dari bibirmu di punggung tanganku,bahkan wangi aroma tubuhmu masih terasa melebur dalam oksigen yang ku masukkan dalam paru paru ku.
Merindukan seseorang adalah paradoks,di satu sisi aku menyadari aku memang menyayangimu sehingga aku bisa sampai pada titik ini,di sisi lain aku tidak bisa merasakan apa apa selain rasa yang muncul terlalu menggebu-gebu.
AH TOLONG! Apapun yang kamu lakukan padaku saat ini,hentikkan itu. Jangan,aku terlalu merindukanmu.
Dan aku tidak sabar menunggu tiba waktunya beristirahat,akan ku gapai bayangmu dalam dunia yang hanya milikku. Dunia dimana aku dapat berlari menghampirimu lalu membenamkan wajahku pada pelukanmu dan sepuasanya menjatuhkan airmataku melepas rasa yang memekakan dadaku ini tanpa terhalang apapun,tanpa terbatas waktu ataupun jarak. Dunia dimana kamu seutuhnya milikku.
Aku selipkan kamu pada setiap kegiatanku,aku bentuk senyumanmu pada otakku,aku rapalkan namamu dalam doaku. Sampai aku dan kamu melipat tangan dan berlutut di hadapan Tuhan meminta restu-Nya pada dua anak manusia yang saling memeluk walau samasama timbulkan luka lalu samasama membasuh dengan airmata. Aku masih berharap pada hari itu sayang, iya aku tau itu tidak sama sekali mudah tidak sama sekali tanpa beban. Tapi aku menaruh harapan itu dalam genggaman tangan kita berdua,sampai nanti aku bisa tersenyum untuk berada di sampingmu,menulis cerita dimana kita menjadi pemeran utamanya.
Sayang,genggam mimpi kita dan mendakilah bersamaku. Akan aku tunjukkan padamu,arti saling memiliki.
Terimakasih untuk bersamaku,terimakasih untuk kehadiranmu.
Malam natal, 24 Desember 2014.
Ku pejamkan mataku,ku hela nafasku dalam lelah. Malam ini rasanya aku menjadi wanita paling damai,setelah mendengar alunan lembut musik mengalun dan nyanyian dari choir memenuhi ruangan besar itu.
Seberapapun damai yang ku rasa,seberapa aku tersenyum,aku masih sibuk mencarimu dalam keramaian. Entah,hatiku berharap akan menemukan senyum itu,milikmu memecah kerumunan orang yang sedang menikmati atmosfir kedamaian natal itu.
Lalu ingatanku pun kembali pada hari kebersamaan kita. Aku pejamkan mataku,hanya untuk merasakan kehadiranmu secara semu namun nyata.
Aku bisa mendengar tawamu,aku dengar suara beratmu saat menenangkanku,aku rasakan tatapanmu jatuh tepat pada mataku untuk menahan kepergianku,aku bisa rasakan genggaman tanganmu dan kecupan manis dari bibirmu di punggung tanganku,bahkan wangi aroma tubuhmu masih terasa melebur dalam oksigen yang ku masukkan dalam paru paru ku.
Merindukan seseorang adalah paradoks,di satu sisi aku menyadari aku memang menyayangimu sehingga aku bisa sampai pada titik ini,di sisi lain aku tidak bisa merasakan apa apa selain rasa yang muncul terlalu menggebu-gebu.
AH TOLONG! Apapun yang kamu lakukan padaku saat ini,hentikkan itu. Jangan,aku terlalu merindukanmu.
Dan aku tidak sabar menunggu tiba waktunya beristirahat,akan ku gapai bayangmu dalam dunia yang hanya milikku. Dunia dimana aku dapat berlari menghampirimu lalu membenamkan wajahku pada pelukanmu dan sepuasanya menjatuhkan airmataku melepas rasa yang memekakan dadaku ini tanpa terhalang apapun,tanpa terbatas waktu ataupun jarak. Dunia dimana kamu seutuhnya milikku.
Aku selipkan kamu pada setiap kegiatanku,aku bentuk senyumanmu pada otakku,aku rapalkan namamu dalam doaku. Sampai aku dan kamu melipat tangan dan berlutut di hadapan Tuhan meminta restu-Nya pada dua anak manusia yang saling memeluk walau samasama timbulkan luka lalu samasama membasuh dengan airmata. Aku masih berharap pada hari itu sayang, iya aku tau itu tidak sama sekali mudah tidak sama sekali tanpa beban. Tapi aku menaruh harapan itu dalam genggaman tangan kita berdua,sampai nanti aku bisa tersenyum untuk berada di sampingmu,menulis cerita dimana kita menjadi pemeran utamanya.
Sayang,genggam mimpi kita dan mendakilah bersamaku. Akan aku tunjukkan padamu,arti saling memiliki.
Terimakasih untuk bersamaku,terimakasih untuk kehadiranmu.
Malam natal, 24 Desember 2014.
Langganan:
Postingan (Atom)
