Kamis, 01 Januari 2015

Suatu kejujuran

Malam itu, kamu hanya sejauh hembusan nafasku. Kamu tepat di ujung hidungku, sedang memejamkan mata seraya bibirmu tidak berhenti mengucapkan semua yang kamu rasakan selama ini. Aku memperhatikan setiap detail dari wajahmu, bagaimana matamu tertutup, bagaimana hidungmu menarik oksigen ke dalam paru parumu, bagaimana alismu berkerut sesuai dengan cerita yang sedang kamu tuturkan, bagaimana bibirmu membentuk kata kata.

Kata-kata yang aku tidak tahu mengapa namun mengiris hatiku, sungguh.
Dan malam ini kembali pada keadaan seperti biasa, aku menuliskan keadaan hatiku karena aku tidak cukup pandai untuk mengatakannya secara langsung, apalagi untuk aku ucapkan secara spontan di hadapanmu yang hanya sejauh hembusan nafasku.

Ingatanku terus membawaku kembali kepada malam itu, karena kata kata yang kamu ucapkan berhasil membuatku tidak memalingkan perhatianku.
"Dia mempunyai hati yang besar dalam hal mencintaiku"
Kamu tau bagaimana rasanya jadi aku saat itu? bagaimana jantungku terasa terhenti? aku tidak mengerti mengapa kata kata itu sungguh terasa perih dalam telingaku dan merasuk cepat ke hatiku. Koreksi aku jika salah, tapi aku merasa bukan sesuatu dalam hidupmu. Aku seperti berada dalam suatu kotak yang penuh berisi kenanganmu dan dirinya. Aku hanya menggenggam bagian kecil dari kotak itu.
Rasanya seperti bukan aku yang ada di dalam kotak hidupmu, rasanya kotak hidupmu masih menjadi miliknya. Bagaimana kamu menjelaskan setiap detail perjalanan kalian berdua?

Sungguh kalau aku tidak sungguh menyayangimu, pasti rasanya tidak akan sesakit dan semenyesakkan ini, sayang. Dan malam ini, dalam kesunyian dan gelap pekatnya malam akhirnya aku menjatuhkan airmataku. Aku merasa cemburu, aku merasa ingin marah, tapi aku sadar tanah yang ku pijak masih basah, belum padat untuk dapat menahan ku.

"Aku pesimis............." Sungguh? Kamu pesimis? lalu apakah kamu akan menyerah?
Menyerah lalu pergi? Sama seperti yang mereka lakukan?
Kamu tahu? kamu baru saja mematahkan semangatku, kamu baru saja menjatuhkan harapanku dengan kata-katamu. Lalu apa yang membuatmu datang dan menetap selama ini kalau hanya untuk menyerah?

Aku memang keras kepala, aku memang susah untuk dimengerti. sungguh, hanya segelintir orang yang dapat melakukannya. Dan aku berharap kamu termasuk di dalamnya. Aku sudah menerbangkan impianku, aku sudah memberikan hatiku yang paling aku jaga dan aku berikan hanya kepada yang aku percayai, dan aku percaya kamu.

Andai kamu tahu, andai bisa kamu melihat dalam hatiku. Rasakan bagaimana aku menyayangimu. Aku menyayangimu dalam diamku, aku bahkan sibuk mencintaimu dalam tawaku. Aku menyayangimu tidak seperti orang lain yang akan matimatian menunjukkannya. Aku tidak bisa seperti itu aku bukan wanita yang bisa melakukannya. Aku tidak pernah sedalam ini mencintai seseorang, ini menjawab pertanyaanmu malam itu yang hanya bisa aku jawab dengan tatapanku.
Dan aku mohon padamu, tolong jangan menyerah padaku, aku tidak bisa memaksamu karena dalam hal ini menyangkut perasaan yang memang hidup.

Hatiku tidak sebesar dia yang dulu menemanimu, namun aku berikan jiwa dan ragaku seluas luasnya untuk menyayangimu. Dan mungkin aku akan melakukan kesalahan lagi, tapi sungguh aku berusaha menjadi lebih baik hanya untukmu. Mempertahankan kenyamananmu dalam pelukanku. Egois kah aku?
Dan sayang, aku tau kamu akan membaca tulisanku. Hanya kamu yang aku sayangi sedalam ini. Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana aku bersyukur untuk segala yang kita lewati, bagaimana aku tersenyum hangat dalam pelukanmu, bagaimana aku berterimakasih kepada Tuhan yang setidaknya memberikan ku menjadi salah satu bagian terkecil dalam perjalanan hidupmu. Aku bisa menjalani sebaik-baiknya bahkan melampai dari apa yang mampu aku lakukan, yang aku tahu yang aku rasakan aku menyayangimu dengan setulus hatiku. Jangan langkahkan kakimu menjauh dari aku, jangan palingkan tatapnmu dari tatapanku, tetap disini, bersamaku.

Aku harap kamu mengerti, dan kamu pasti mengerti :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar