Entah sudah berapa kali dalam minggu-minggu terakhir kita seperti berada dalam suatu lingkaran, lebih tepatnya hanya aku yang merasa seperti itu.
Karena kamu memang tidak menunjukkan kalau kamu menyadari sesuatu yang salah tentang kita.
Sebentar aku tertawa lalu membalas pelukanmu, sebentar kemudian keadaan berubah 180 derajat. Lalu kita akan saling menatap dengan amarah di matamu, iya aku melihatnya.
Aku menghela nafasku bersamaan dengan semua kejadian seperti terulang di dalam otakku. Semuanya aku simpan dalam hati, karena lebih mudah daripada harus menjelaskan kepadamu, kamu yang kelihatannya sama tapi berbeda. Bahkan aku masih memikirkan mengapa kamu mempertahankan ini semua, kamu menyayangiku? Kalau memang kamu menyayangiku harusnya tidak seperti ini.
Dan airmataku mulai jatuh, semua ini mulai terasa mengganggu pikiranku, karena terjadi terlalu sering dalam kurun waktu yang singkat. Kamu mengganggap aku mendahulukan ego ku dan aku beranggapan bahwa kamu sama sekali tidak mengerti apa maksudku dari awal. TIDAK AKAN MENEMUKAN TITIK PUSAT, tidak akan. Semuanya seperti perlahan tapi pasti menjauh dari pandanganku. Rencana kita, semua bayangan hari hari nanti yang akan aku lewati bersamamu, terasa jauh dan tidak mungkin sama sekali.
Aku tidak akan memulai bicara kepadamu lagi. Rasanya seperti berputar di tempat. Was it just a lie baby? Lalu sepertinya kita terlalu cepat menyimpulkan cinta kita kuat menghadapi dunia, terlalu cepat berpikir bahwa dengan saling menggenggam tangan masing masing lalu kita mampu melangkah bersama. Cinta tidak sesederhana pemikiranku, wanita awal 20-an. Yang terlalu berpikir kalau cinta mampu mengalahkan dunia, tidak.
Seperti berusaha menyatukan dua batu di satu tempat yang sama, iya sulit dan tidak mudah. Tetap bisa menyatu tapi tidak melebur. Mengapa bersamamu sepertinya sangat sulit? mengapa cinta saja tidak cukup menjadi alasan untuk menjalani hidup ini bersamamu dengan lebih mudah? Aku tidak mampu menahan setiap tekanan. Tapi setiap aku membayangkan kalau aku akan bertemu kamu lagi setelah hari perpisahan kita yang mungkin saja terjadi, rasa-rasanya aku tidak akan menemukan seseorang yang sama seperti mu untuk kedua kalinya untuk menemaniku dalam dunia milikku. Bahkan hanya memikirkan melihat senyummu nanti setelah hari perpisahan kita terjadi sudah sangat menyakitkan, karena aku tahu senyummu bukan karenaku dan bukan untukku. Mmapukah aku mendengar namamu disebut atau ketika wajahmu tibatiba muncul di otakku dan tidak merasa seperti yang aku rasakan sekarang? Apakah memang melepaskan jalan terbaik kita? Agar tidak meneruskan luka yang sudah tercipta ini?
Nyatanya membawa cinta kita ke langkah selanjutnya sangat tidak mudah, nyatanya membawa cinta kita ke tingkat berikutnya bukan tentang kita berdua lagi, bukan tentang aku dan diri mu. Nyatanya dengan cinta saja tidak cukup ya sayang :")
Tapi aku tahu kamu tidak menyadari ada yang mati dalam dadaku, ada yang mati dalam diriku. Dan mungkin kita akan terlambat menyadari nya.
Aku tidak tahu senja mana yang akan menjadi senja kita, tapi bila nanti senja terakhir kita tiba ingatlah selalu senja itu untukku, walau hatimu berubah walau duniaku berubah. Ingatlah bahwa pernah ada wanita yang jatuh hati pada senja yang mencoba meleburkan senjanya dengan langit malammu.
Karena kamu memang tidak menunjukkan kalau kamu menyadari sesuatu yang salah tentang kita.
Sebentar aku tertawa lalu membalas pelukanmu, sebentar kemudian keadaan berubah 180 derajat. Lalu kita akan saling menatap dengan amarah di matamu, iya aku melihatnya.
Aku menghela nafasku bersamaan dengan semua kejadian seperti terulang di dalam otakku. Semuanya aku simpan dalam hati, karena lebih mudah daripada harus menjelaskan kepadamu, kamu yang kelihatannya sama tapi berbeda. Bahkan aku masih memikirkan mengapa kamu mempertahankan ini semua, kamu menyayangiku? Kalau memang kamu menyayangiku harusnya tidak seperti ini.
Dan airmataku mulai jatuh, semua ini mulai terasa mengganggu pikiranku, karena terjadi terlalu sering dalam kurun waktu yang singkat. Kamu mengganggap aku mendahulukan ego ku dan aku beranggapan bahwa kamu sama sekali tidak mengerti apa maksudku dari awal. TIDAK AKAN MENEMUKAN TITIK PUSAT, tidak akan. Semuanya seperti perlahan tapi pasti menjauh dari pandanganku. Rencana kita, semua bayangan hari hari nanti yang akan aku lewati bersamamu, terasa jauh dan tidak mungkin sama sekali.
Aku tidak akan memulai bicara kepadamu lagi. Rasanya seperti berputar di tempat. Was it just a lie baby? Lalu sepertinya kita terlalu cepat menyimpulkan cinta kita kuat menghadapi dunia, terlalu cepat berpikir bahwa dengan saling menggenggam tangan masing masing lalu kita mampu melangkah bersama. Cinta tidak sesederhana pemikiranku, wanita awal 20-an. Yang terlalu berpikir kalau cinta mampu mengalahkan dunia, tidak.
Seperti berusaha menyatukan dua batu di satu tempat yang sama, iya sulit dan tidak mudah. Tetap bisa menyatu tapi tidak melebur. Mengapa bersamamu sepertinya sangat sulit? mengapa cinta saja tidak cukup menjadi alasan untuk menjalani hidup ini bersamamu dengan lebih mudah? Aku tidak mampu menahan setiap tekanan. Tapi setiap aku membayangkan kalau aku akan bertemu kamu lagi setelah hari perpisahan kita yang mungkin saja terjadi, rasa-rasanya aku tidak akan menemukan seseorang yang sama seperti mu untuk kedua kalinya untuk menemaniku dalam dunia milikku. Bahkan hanya memikirkan melihat senyummu nanti setelah hari perpisahan kita terjadi sudah sangat menyakitkan, karena aku tahu senyummu bukan karenaku dan bukan untukku. Mmapukah aku mendengar namamu disebut atau ketika wajahmu tibatiba muncul di otakku dan tidak merasa seperti yang aku rasakan sekarang? Apakah memang melepaskan jalan terbaik kita? Agar tidak meneruskan luka yang sudah tercipta ini?
Nyatanya membawa cinta kita ke langkah selanjutnya sangat tidak mudah, nyatanya membawa cinta kita ke tingkat berikutnya bukan tentang kita berdua lagi, bukan tentang aku dan diri mu. Nyatanya dengan cinta saja tidak cukup ya sayang :")
Tapi aku tahu kamu tidak menyadari ada yang mati dalam dadaku, ada yang mati dalam diriku. Dan mungkin kita akan terlambat menyadari nya.
Aku tidak tahu senja mana yang akan menjadi senja kita, tapi bila nanti senja terakhir kita tiba ingatlah selalu senja itu untukku, walau hatimu berubah walau duniaku berubah. Ingatlah bahwa pernah ada wanita yang jatuh hati pada senja yang mencoba meleburkan senjanya dengan langit malammu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar