Sabtu, 03 Januari 2015

Nyanyian hujanmu dalam sanubariku

Dan suara yang sangat akrab dalam telingaku menyadarkanku dari tidur lelap singkatku, aku coba membuka mataku. Ah ternyata hujan, tiupan angin tipis namun terasa sampai ke dalam tulangku membuatku menarik selimut yang telah ku sibakkan. Dan aku memejamkan mataku, sebentuk wajah terbentuk dari gelapnya pandanganku, seketika cairan hangat seperti mengalir dalam hatiku menimbulkan kenyamanan yang selama ini aku rasakan.

Di hari hujan seperti ini, di tengah suara air menyentuh bumi, di tengah suara petir membelah langit dari kejauhan. Alam semesta ini memiliki pesan akan keindahan kepada siapapun yang dapat menangkapnya. Sama seperti kehadiranmu, jujur tanpa sandiwara menarik tanganku untuk berlari dalam genggamanmu. Yang dimana kehangatan dari pertemuan telapak tangan mu dengan telapak tanganku merasuk ke setiap inci dari nadiku sampai kepada hatiku membuatku menghela nafas.

Hujan kali ini terasa sangat istimewa karena jatuh membasahi kedatangan langit senjaku. Kamu adalah matahari senjaku, yang tidak akan tertutup walau terburamkan oleh bulir bulir hujan yang mengalir melewati setiap inci jendelaku. Cahaya mataharimu melesak masuk melalui setiap celah mencoba mendekapku dengan hangatmu. Iya, kamu hangat dan aku menyukai keteduhanmu yang menenangkan.

Karena aku suka hujan, dan aku adalah penikmat senja. Dan kamu adalah keindahan di antara hujan dan cahaya senjaku, kamu juga suka hujan. Kita sama sama suka hujan. Walau aku lebih menyukai hujan gerimis tipis awal november, yang hanya timbulkan ketenangan tanpa bencana. Semua orang punya perbedaan mengenai selera bukan? Dan dalam rengkuhan langit senja janji antara kita pun terucapkan.
Sore itu, aku baru saja memalingkan tatapanku dari awan sore yang terpecah dan terobek indah dari cahaya matahari seakan mempertahankan cahaya agar tetap berada dalam sela-sela jemari awan yang sudah terbelah menimbulkan gambaran tak terbayarkan dalam mataku. Lalu aku jatuhkan tatapanku pada mu yang sedang tersenyum simpul tepat di hadapanku. "Kamu mau gak jadi pacarku? Dalam bahagia ataupun sedih sama aku?" Nafasku pun tercekat, seperti masih meneliti ke dalam matamu mencoba mencari cari apa maksud dari kata kata yang baru saja ku dengar, mencoba mencari kebohongan atau tatapan gurauan. Tapi aku tidak menemukannya, yang aku temukan hanya tatapan tulus seorang pria meminta seorang wanita menemani dirinya menjalani hari-hari nya.
Aku masih ingat, yang terjadi selanjutnya adalah mataku memanas sambil menggangukan kepala sekuat yang aku bisa untuk membuatmu sadar kalau aku meng-iya-kan permintaanmu dengan sepenuh hatiku.

Sejak saat itu, hujan ataupun senja ataupun hujan di kala senja adalah tentang kita. Karena dalam hujan aku temukan banyak ketenangan dan keteduhan seperti yang ku temukan dari dirimu. Karena di hadapan awan sore langit senja kita memutuskan untuk bersama dalam satu pelukan. Karena hujan dan senja sama-sama menyimpan cerita tentang kita, menyimpan nyanyian hujanmu di sanubariku. Dalam. Memelukku dalam kehangatan senjamu. Erat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar