Selasa, 09 Desember 2014

Hari ke-52

Ini malam ke 52 semenjak senja itu.

Pertemuan kita yang sangat tidak ku duga masih terekam jelas pada otakku, bagaimana kamu menyapaku. Iya aku tidak memperhatikanmu pada awalnya. Tapi kini, aku duduk di sampingmu menikmati letupan letupan perasaanku dalam dada ketika menatapmu, dalam.
Bahkan ketika aku memejamkan mataku, kamu selalu muncul di gelapnya pandanganku. Dan simpulan senyuman pun terbentuk samar di bibirku.
Bahkan hanya dengan mengingat tawamu mampu menimbulkan rasa hangat dalam relung hatiku yang entah darimana dia berasal.
Bahkan aku terus mencari cari sosokmu dalam keramaian, berharap aku tidak sendiri.

52 hari, sudah 52 hari semenjak senja itu. Aku jatuh sayang, jatuh dalam tatapanmu. Aku jatuh tapi aku menikmatinya. Tidakkah kamu sadari hal itu? Tidakkah kamu merasakan tatapanku padamu?
Apakah ini bahaya? apakah ini terlalu kelewat cepat? apakah ini terlalu dalam?
Aku menyadari setiap detiknya bahwa yang ku temukkan dalam dirimu adalah aku.
Sama seperti malam sebelumnya, malam ini pun otakku kamu penuhi dengan kamu. Aku harap mengubah fikiranku menjadi tulisan akan membantu ku.
Aku tidak tahu kenapa rasa ini dapat muncul sebegitu cepat namun sangat rapih.

Aku mencintaimu, aku jatuh hati pada pria yang tidak bisa berhenti berbicara yang kadang kewalahan menghadapi ku. pada pria yang di tatapan matanya aku temukan rasa hangat itu, pada pria yang pada genggaman jemarinya aku letakkan hatiku seutuhnya berharap dia akan menjaga hatiku, pada pria yang mengajak jiwaku menari di setiap alunan tuts piano yang ia timbulkan, pada pria yang ku nikmati hadirnya dari sisiku, pada pria yang aku ceritakan segalanya tentang hidup.

Kamu, kalau kalau kamu membaca tulisanku ini, aku hanya ingin kamu tahu kalau aku tidak bergurau dengan semua ini, aku mau kamu mengerti bahwa kamu berbeda, kehadiranmu berarti padaku, kamu membuat aku membutuhkan sosokmu dalam hariku, membutuhkan warnamu untuk menghiasi pelangiku. Kamu dapat mempercayai aku untuk hatimu seperti aku memberikkan hatiku untuk kau genggam.

Aku mungkin tidak sebaik apa yang pernah kamu harapkan, aku mungkin tidak lebih baik dari apa yang pernah kamu miliki. Mungkin aku sering mengecewakanmu, membuatmu terluka, Percayalah sayang, itu menyakitiku lebih dari yang kamu tahu.

Untuk semua tawa yang kamu timbulkan.
Untuk semua senja dalam rengkuhanmu
Untuk semua malam dengan aroma tubuhmu
Untuk semua jengkelmu padaku saat aku terlalu keras
Untuk semua genggaman tangan dan tatapan teduhmu
Untuk semua peluk hangatmu
Untuk semua tetes airmatamu saat kamu terluka
Untuk semua pembicaraan tengah malam kita
Untuk setiap kali kamu membuatku jatuh padamu
Untuk setiap sentuhan jarimu melewati rambutku
Untuk setiap detik di sampingmu

Dari wanita yang suka berbicara tentang hujan, Dengan seluruh hati yang aku percayakan padamu, lebih dari semua kata yang tertulis dalam tulisanku, lebih dari semua sikap yang aku tunjukkan, lebih dari sebelum sebelumnya, aku jatuh terlalu dalam. Aku menyayangimu


Tidak ada komentar:

Posting Komentar